Tampilkan postingan dengan label 2013/14. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2013/14. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2016

Memori : Kiprah Para Pelatih di Musim Pertama

Pada awal musim 2013/14 lalu, sejumlah klub besar Eropa menunjuk nama baru sebagai pelatih. Di antara mereka terdapat nama Carlo Ancelotti (Real Madrid), Gerardo ’Tata’ Martino (Barcelona), Josep ’Pep’ Guardiola (Bayern Muenchen), David Moyes (Manchester United), Manuel Pellegrini (Manchester City), Jose Mourinho (Chelsea), Rafael Benitez (Napoli), dan Laurent Blanc (PSG).

Ketika kompetisi berakhir, siapa pelatih tersukses di musim pertamanya? Ancelotti, Pellegrini, dan Guardiola sama-sama mengoleksi dua trofi pada akhir musim. Ancelotti membawa Los Blancos menjadi juara Liga Champion Eropa dan Copa del Rey. Pellegrini memimpin The Citizens menjuarai Liga Premier dan Piala Liga Inggris. Pep Guardiola mengomandoi Die Roten menjadi kampiun Bundesliga dan Piala Jerman. Sebelumnya, Muenchen pun berhasil menjadi juara Piala Super Eropa dan Piala Dunia Klub 2013 di bawah mantan pelatih Barcelona itu. Tapi kegagalan FC Bayern di semifinal Liga Champion (kalah agregat 0-5 dari Real Madrid) sedikit menodai rekor Guardiola yang total bisa mengumpulkan empat trofi dalam semusim.
410747_heroa
Sementara itu, Benitez dan Blanc pun mampu menghadirkan sebuah gelar kampiun bagi tim masing-masing. Napoli menjuarai Copa Italia dan PSG mempertahankan trofi juara Liga Prancis. Tata Martino dan Mourinho gagal meraih trofi apa pun. El Barca langsung menunjuk Luis Enrique sebagai arsitek baru menggantikan Tata yang mengundurkan diri. Posisi Mou sendiri tetap aman di Stamford Bridge. Tapi yang bernasib paling naas tetaplah David Moyes. MU yang merupakan juara bertahan EPL sejak jauh hari sudah tidak mampu bersaing merebut trofi. Moyes pun dipecat pada pertengahan musim, setelah mencetak sejumlah rekor buruk bagi klub. Ryan Giggs ditunjuk sebagai pelatih sementara United hanya hingga akhir musim.

Memasuki musim 2014/15, beberapa nama anyar kembali menghiasi kursi manajer klub top Benua Biru. Mereka adalah Luis Enrique (Barcelona), Louis van Gaal (Manchester United), Filippo Inzaghi (AC Milan), dan Massimiliano Allegri (Juventus). Penunjukan Enrique dan Van Gaal mendapat sambutan yang positif. Sebagai mantan bintang El Barca yang pernah sukses menangani Barcelona B, Luis Enrique diharapkan mampu menapaktilasi prestasi Guardiola untuk membawa Blaugrana berjaya kembali. Sementara itu, penampilan impresif Belanda di Piala Dunia 2014 menyembulkan optimisme bahwa Red Devils akan bangkit begitu ditangani seorang pelatih senior bermental juara. Louis van Gaal memiliki rekam jejak prestasi yang panjang, di antaranya ketika melatih Ajax Amsterdam, Barcelona, dan Bayern Muenchen. Hasil laga uji coba pramusim memperlihatkan niat Wayne Rooney dkk untuk kembali bersaing memperebutkan gelar juara di dalam negeri karena United bakal absen di Eropa. Meski sempat mengalami awal musim yang buruk, namun kehadiran sejumlah bintang seperti Angel di Maria, Daley Blind, dan Radamel Falcao membuat harapan tim Manchester Merah akan berprestasi masih tetap terjaga.

Inzaghi yang menggantikan posisi Clarence Seedorf sebenarnya masih diragukan mampu mengangkat kembali martabat Rossoneri. Seperti halnya Seedorf, Pippo masih belum berpengalaman menangani tim senior. Tapi dua tahun melatih tim junior Milan dipercaya bisa menjadi bekal bagi Inzaghi dalam menjalani debutnya sebagai pelatih klub yang pernah diperkuatnya sebagai pemain selama sebelas musim (2001-2012). Kehadiran sejumlah pemain baru seperti Alex, Jeremy Menez, Diego Lopez, Fernando Torres, dan Giacomo Bonaventura diharapkan mampu meningkatkan kinerja tim, meski Kaka, Robinho, dan Mario Balotelli telah pergi dari San Siro.

Pengunduran diri Antonio Conte sesudah membawa Juventus meraih scudetto tiga musim berurutan tentu menjadi kejutan besar bagi publik. Tapi dipilihnya Allegri pun mengundang tanda tanya dari penggemar, apalagi musim lalu Milan memecatnya di tengah jalan. Tapi pihak manajemen mungkin percaya Allegri mampu mengulangi debutnya bersama Rossoneri dahulu ketika menangani Bianconeri saat ini. Materi pemain Juve yang jelas berkualitas dan tidak banyak berubah menjadi keberuntungan tersendiri bagi Allegri, sekiranya adaptasi dapat berjalan dengan sempurna. Dan ternyata hingga pekan kedua Serie A, baik Milan maupun Juventus selalu meraih kemenangan dengan meraih poin sempurna. Kita pun mesti menunggu satu musim kembali berputar, hingga akhirnya melihat siapa gerangan para arsitek yang mampu berjaya bersama klub anyarnya.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan BolaVaganza No.156 – Oktober 2014.

Senin, 29 Agustus 2016

Memori : Kiprah Pelatih Anyar Klub Besar

Ada hal yang berbeda menjelang berputarnya kompetisi liga sepak bola musim 2013/14 di sejumlah negara utama Eropa. Beberapa klub besar di Benua Biru bakal dibesut oleh pelatih anyar. Transformasi figur penting di balik layar tim tersebut melibatkan nama-nama kondang. Perubahan paling ekstrim terjadi di Liga Inggris. Tiga tim penghuni posisi empat besar Liga Primer Inggris musim lalu berganti manajer. David Moyes akan memulai petualangan barunya bersama Manchester United, setelah berakhirnya era Sir Alex Ferguson selama lebih dari dua dekade. Sebuah tugas berat bagi mantan pelatih Everton tersebut mengingat begitu berkilaunya prestasi Red Devils semasa ditangani Fergie.

Manuel Pellegrini bersedia menjawab kepercayaan petinggi Manchester City agar dapat kembali ke jalur juara. Pelatih sebelumnya, Roberto Mancini dipecat menjelang musim 2012/13 berakhir lantaran gagal memberikan satu pun trofi. Keberhasilan Pellegrini membawa Malaga sebagai tim kuda hitam di Liga Spanyol dan Liga Champion menjadi alasan City merekrutnya. Jose Mourinho kembali ke Chelsea, klub yang menurutnya senantiasa mencintainya sekaligus dia cintai. Sesudah frustrasi di Real Madrid karena terjadinya konflik internal, Mourinho mencoba mengulangi kejayaannya di masa lalu bersama The Blues sejak musim depan.

Carlo Ancelotti akhirnya bersedia hijrah dari PSG menuju Madrid menggantikan Mourinho. Ancelotti sudah pernah sukses menjadi kampiun bersama AC Milan, Chelsea, dan PSG. Bos Madrid, Florentino Perez tentu sangat berharap Don Carlo mampu memberikan trofi ke-10 Liga Champion bagi Los Blancos dan kembali menumbangkan dominasi Barcelona di La Liga.

Josep ‘Pep’ Guardiola melatih tim luar negeri pertamanya, Bayern Muenchen, yang baru saja meraih prestasi fantastis bersama Jupp Heynckes musim kemarin. Pep mempertaruhkan prestasi fenomenalnya bersama Barcelona tempo hari di klub raksasa Bundesliga tersebut.
Rafael Benitez kembali ke Italia untuk menangani Napoli. Sekian tahun silam pelatih asal Spanyol tersebut pernah menangani Inter dan memberikan trofi Piala Dunia Klub, namun dipecat sehabis itu. Musim lalu Benitez sukses meraih Piala Europa bersama Chelsea.
Walter Mazzari berupaya mengangkat kembali Inter Milan yang babak belur musim lalu. Dia datang dengan bekal prestasi membawa Napoli menempati peringkat kedua Serie A 2012/13.

Sangat menarik untuk menyaksikan kiprah para pelatih tersebut bersama klub barunya. Adakah di antara mereka yang sukses mempersembahkan gelar juara pada musim pertamanya? Moyes, Pellegrini, Mourinho, Ancelotti, Guardiola, Benitez, dan Mazzari akan menjawabnya pada pengujung musim mendatang.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan BolaVaganza No.142 – Agustus 2013.

Rabu, 25 Mei 2016

Memori : Gelar ke-10 Madrid Tanpa Pemain Nomor 10

Selebrasi Real Madrid ketika menjuara Liga Champion 2013/14.

Real Madrid akhirnya menutup kompetisi antarklub Eropa 2013/14 dengan menjadi juara Liga Champion untuk kesepuluh kalinya. La Decima akhirnya berhasil diejawantahkan oleh Los Blancos besutan Carlo Ancelotti. El Real mengukir sejarah manisnya dengan menang 4-1 atas Atletico Madrid di Estadio da Luz, Lisabon, Portugal pada Sabtu malam (24/5) waktu setempat. Derbi Madrid dalam partai puncak antarklub juara Eropa tersebut berlangsung sangat dramatis.

Los Colchoneros lebih dulu unggul di babak pertama melalui gol sundulan Diego Godin pada menit ke-36. Namun gol sundulan Sergio Ramos mampu membuyarkan kemenangan tim lawan pada menit ke-93. Tim asuhan Diego Simeone cenderung melemah dan tampil antiklimaks di babak perpanjangan waktu. Sementara itu, Cristiano Ronaldo dkk justru terbakar kembali semangatnya bagaikan bangkit dari kematian. Obsesi mewujudkan la decima ternyata masih ada dan belumlah sirna. Tiga gol yang dibuat Gareth Bale (110’), Marcelo (118’), dan CR7 (120’-penalti) pada babak kedua extra time akhirnya memastikan kemenangan Los Merengues atas tim sekotanya.

Berbagai rekor baru pun bermunculan. Real Madrid kian perkasa di Eropa dengan 10 trofi Piala/Liga Champion yang dikoleksinya. Carlo Ancelotti untuk ketiga kalinya menjadi kampiun Liga Champion sebagai pelatih, setelah dua kali sebelumnya diraihnya bersama AC Milan. Pria Italia tersebut juga pernah dua kali menjuarai Piala Champion sebagai pemain Rossoneri. Cristiano Ronaldo menjadi pencetak gol terbanyak Liga Champion dengan 17 gol yang merupakan rekor baru dalam semusim. CR7 kini mengoleksi total 68 gol (107 laga) dalam daftar top scorer Liga Champion sepanjang masa dan hanya kalah dari Raul Gonzales (71 gol).

Gareth Bale membuktikan bahwa kehadirannya ke Santiago Bernabeu memang tidak percuma. Mantan pemain Tottenham Hotspur itu pun mencetak gol di final Copa del Rey 2014 yang dimenangi Madrid. Iker Casillas sekali lagi menunjukkan kualitasnya sebagai kapten tim kampiun. Casillas telah membawa Spanyol juara Piala Dunia 2010 dan dua kali mengangkat trofi Piala Eropa dalam enam tahun terakhir. Musim ini San Iker memimpin Madrid meraih dua gelar juara. 


Terakhir, ada satu hal yang unik. Los Galacticos ternyata meraih trofi ke-10 di Eropa tanpa pemain bernomor 10. Pada awal musim 2013/14 masih ada Mesut Oezil bermain di sektor tengah, namun ia lantas dijual ke Arsenal, dan kostum nomor 10 Los Blancos pun dibiarkan kosong hingga akhir musim. Meski tidak sebahagia mantan rekan-rekannya di Madrid, Oezil pun bisa tersenyum ceria karena membawa The Gunners menjuarai Piala FA 2014, sekaligus mengakhiri paceklik gelar tim asuhan Arsene Wenger selama sembilan musim.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan Mingguan BOLA Edisi 2.564/2014.

Minggu, 08 Mei 2016

Memori : Kejutan Besar Los Blancos di Muenchen


Real Madrid benar-benar membuat kejutan besar ketika bertandang ke Fussball Arena pada Selasa (29/4). Tuan rumah Bayern Muenchen, yang diperkirakan mampu membalas kekalahan 0-1 pada semifinal pertama, justru kalah 0-4 dan mesti menanggung malu di depan publiknya sendiri.
Tampaknya kepercayaan diri dan optimisme berlebihan membuat tim besutan Pep Guardiola cenderung meremehkan tim asuhan Carlo Ancelotti. Bisa jadi Pep terbuai catatan gemilangnya saat menukangi Barcelona menghadapi Madrid. Dia lupa kini menangani Muenchen, lalu ada pula sosok Don Carletto di Los Merengues musim ini. Mantan pelatih AC Milan dan Chelsea itu terkenal jago strategi sebagaimana pelatih top Italia lainnya, apalagi ada sosok Zinedine Zidane yang menemaninya di bangku cadangan. Alhasil, Sergio Ramos dan Cristiano Ronaldo mencetak masing-masing dua gol serta berhasil menghukum Phillip Lahm dkk.

Los Blancos berhasil lolos ke final Liga Champion pertamanya sejak 2002 (terakhir kali juara) dan kian dekat mengejawantahkan La Decima. Sementara itu Die Roten dipastikan gagal memertahankan trofinya di Eropa dan mustahil mengulangi prestasi treble winner musim lalu.
Dengan sepasang golnya ke gawang Manuel Neuer, CR7 sukses mengukir rekor sebagai pencetak gol terbanyak Liga Champion 2013/14 dengan 16 gol hingga semifinal. Sementara itu Ramos mencatat rekor unik pula. Ketika Madrid menang 4-0 atas Osasuna pada laga Liga Spanyol Sabtu (26/4), bek Spanyol itu pun menyumbang satu gol.

Sebelum sampai di partai puncak yang berlangsung di Lisabon Portugal pada Mei mendatang, El Real sukses menyisihkan tiga klub Jerman, yaitu Schalke 04 (perdelapan final), Borussia Dortmund (perempat final), dan Bayern Muenchen (semifinal). Dortmund dan Muenchen merupakan tim yang menghentikan langkah Madrid di semifinal dalam dua musim kemarin. Kemenangan atas kedua tim itu musim ini merupakan pembalasan yang manis dari Los Galacticos.
Real Madrid masih menyisakan satu partai terpentingnya musim ini demi meraih trofi Liga Champion ke-10. Mudah-mudahan kemenangan besar atas Bayern bukanlah penampilan klimaks CR7 dkk karena Si Kuping Besar belum pasti berada di tangan kapten Iker Casillas. Buena suerte, Los Blancos!

* pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan Harian BOLA Jumat, 2 Mei 2014.