Tampilkan postingan dengan label memori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memori. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2022

Memori : Kostum Biru De Oranje

Belanda memastikan lolos menuju 16 besar Piala Dunia 2014 setelah meraih dua kemenangan atas Spanyol (5-1) dan Australia (3-2). Dua tim yang dikalahkan tim Oranye mesti lekas berkemas-kemas meninggalkan Brasil karena selalu kalah dalam dua laga. Cili dipastikan menjadi tim kedua dari Grup B yang melaju ke babak selanjutnya. Belanda versus Cili (23/6) menentukan posisi juara dan runner-up Grup B yang akan berhadapan dengan wakil Grup A.


Kemenangan meyakinkan Belanda atas Spanyol di laga perdana menjadi pembalasan atas kekalahan 0-1 di partai puncak Piala Dunia 2010. Adegan terbang Robin van Persie yang membuka keran gol ke gawang Iker Casillas menjadi sesuatu yang begitu fenomenal. Robin yang menjadi kapten akhirnya mencetak dua gol, demikian pula Arjen Robben. Satu gol lagi dibuat Stefan de Vrij yang merupakan gol debutnya untuk Belanda. Ketika mengandaskan Australia, Van Persie dan Robben kembali menambah koleksi golnya di Brasil, sementara gol Memphis Depay menentukan kemenangan tim besutan Louis van Gaal.


Ada sejumlah hal yang unik dari aksi Belanda di Brasil. Pertama, Arjen Robben dkk menjadi satu-satunya tim yang selalu tampil di Piala Dunia 2014 dengan pemain bernomor urut satu (1) hingga 11 sejak menit pertama, setidaknya dalam dua pertandingan. Starting line-up Belanda : 1.Cillessen, 2. Vlaar, 3.De Vrij, 4.Martins Indi, 5.Blind, 6.De Jong, 7.Janmaat, 8.De Guzman, 9.Van Persie, 10.Sneijder, 11.Robben.

Kemudian, meski memiliki julukan De Oranje, tapi dalam dua pertandingan awalnya di Brasil, Belanda justru tampil dengan kostum keduanya yang berwarna biru, dan kemenangan pun diraih dengan cemerlang. Akan sampai manakah langkah De Oranje di Negeri Samba? Apakah starting eleven yang dimainkan Van Gaal bakal terus bertahan? Apakah tim Oranye akan tetap berkostum biru? Dan mampukah Robin van Persie cs melampaui prestasi di Afrika Selatan 2010 dengan menjadi juara dunia untuk pertama kalinya? Kita mesti terus menyimak Piala Dunia di Brasil dengan seksama.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan Harian BOLA Sabtu, 21 Juni 2014.

Senin, 27 Juni 2022

Memori : Belajar dari Kesabaran Robben

Tersebutlah seorang pemain sepak bola terkenal dunia yang mengalami kesialan tak berkesudahan pada tahun 2012. Setelah bersama klub Bayern Muenchen mengalami tiga kali kegagalan merebut trofi juara Bundesliga, Piala Jerman, dan Liga Champion Eropa, ia pun mengalami kegagalan selanjutnya bersama tim nasional Belanda di Euro 2012. Secara mengejutkan, Tim Oranye mengalami tiga kali kekalahan dari Denmark, Jerman, dan Portugal dengan tanpa meraih poin satu pun. Keberuntungan ternyata tidak kunjung menghampiri pemain sayap nan lincah tersebut setahun silam. Catatan buruk tersebut masih bisa diperpanjang dengan kekalahan Bayern Muenchen dari Inter Milan di final Liga Champion 2009/2010 dan kekalahan Belanda dari Spanyol di final Piala Dunia 2010.

Namun pemain tersebut akhirnya mampu menebus segala kekecewaannya di masa silam pada tahun ini. Arjen Robben, bintang Bayern Muenchen asal Belanda tersebut menjadi aktor penting keberhasilan Die Roten meraih gelar ”treble winners” musim 2012/13. Tiga trofi yang gagal diraih musim lalu sukses diborong oleh tim asuhan Jupp Heynckes. Gelar juara Bundesliga digapai dengan sejumlah rekor, di antaranya dengan menjadi tim yang tercepat memastikan gelar kampiun sepanjang sejarah Bundesliga. Bayern pun unggul 25 poin (total poin 91) atas Borussia Dortmund yang menempati peringkat kedua. Trofi Liga Champion sukses direbut FC Holywood setelah menang 2-1 atas Dortmund di Stadion Wembley pada Sabtu, 25 Mei 2013. Robben mencetak sebuah gol dan sebuah umpan untuk Mario Mandzukic demi memenangkan timnya. Gelar ketiga Muenchen musim ini adalah Piala Jerman (DFB Pokal) yang diraih setelah mengandaskan VFB Stuttgart 3-2 di Olympia Stadium Berlin pada Sabtu, 1 Juni 2013.
Sesudah rangkaian kegagalan musim lalu, pastilah Arjen Robben terus bekerja keras meningkatkan kualitas permainannya bersama rekan-rekan satu tim maupun pelatihnya. Ambisinya untuk menjadi yang terbaik tak pernah pupus dengan kegagalan.


Buah Kerja Keras
Apa yang ditunjukkan Robben bersama Bayern menjadi bukti bahwa sebuah kerja keras yang disertai kesabaran akhirnya berbuah manis. Salah satu prestasi fenomenal Die Roten sebelum memenangi Liga Champion adalah menundukkan Barcelona di babak semifinal dengan skor agregat 7-0. Klub Jerman itu menang 4-0 di Muenchen dan 3-0 di Barcelona. Robben mencetak masing-masing satu gol dalam kedua laga semifinal tersebut. Dan beruntunglah publik sepak bola Indonesia yang mampu menyaksikan langsung kehebatan Arjen Robben yang menjadi kapten Belanda (di babak kedua) saat mengalahkan Indonesia pada Sabtu, 7 Juni 2013, di SUGBK Jakarta. Robben mencetak gol indah berkualitas tinggi untuk menggenapkan kemenangan 3-0 Tim Oranye atas Tim Garuda. Indonesia pun memiliki persamaan dengan Barcelona pada tahun 2013, yaitu pernah dikalahkan di kandang sendiri oleh tim yang diperkuat oleh Arjen Robben dan kebobolan satu gol pula oleh penyerang sayap tersebut.

Selain itu, seandainya bulan Juni ini diselenggarakan pemilihan Pemain Terbaik Dunia tahun 2013, Robben sangat layak menjadi pemenangnya. Yang jelas, seluruh komponen sepak bola Indonesia bisa belajar banyak dari perjalanan karier Robben selama ini, menjadi inspirasi dan motivasi untuk menjalani proses panjang yang mampu menghasilkan sesuatu yang baik di masa depan.


Kegagalan demi kegagalan yang dirasakan Robben tak membuat mentalnya rapuh, justru sebaliknya mampu memotivasi dirinya untuk berbuat lebih baik bagi klub dan timnas negaranya. Robben menunjukkan kepada dunia ia memiliki mental pemenang.

Timnas Indonesia mungkin saat ini belum bisa mencetak prestasi internasional yang membanggakan. Namun dengan kerja keras dan semangat memperbaiki diri, cepat atau lambat dahaga gelar juara publik sepak bola tanah air bisa berakhir.
Tinggal kembali kepada para pemain sendiri serta para pemangku kepentingan sepak bola nasional. Lelah berjuang menjadi yang terbaik atau tetap menjaga semangat dan terus melakukan perbaikan buat target yang akan dicapai pada masa depan. Bagaimana, PSSI?

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan Opini Publik Harian BOLA Selasa, 11 Juni 2013.

Minggu, 26 April 2020

Pemain Terkemuka Timnas Indonesia


Salut untuk jurnalis FourFourTwo Indonesia yang pernah menyusun daftar 83 Pemain Terkemuka Timnas Indonesia dalam edisi April 2013. Hal itu dilakukan untuk menyambut ulang tahun ke-83 PSSI. Banyak nama yang berjaya puluhan tahun silam, seperti Maulwi Saelan, Djamiat Dalhar, Ramang, hingga Soetjipto Soentoro, Ronny Pattinasarany, Risdianto, Iswadi Idris, Abdul Kadir, dan Sutan Harhara. 
Ada para pemain era 1980-an, seperti Hermansyah, Herry Kiswanto, Elly Idris, Marzuki Nyak Mad, Patar Tambunan, Zulkarnaen Lubis, Bambang Nurdiansyah, Rully Nere, Ricky Yakobi, dan Ribut Waidi. 



Setelah itu adalah mereka yang bermain pada 1990-an dan seterusnya, ketika saya sudah menjadi penonton setia timnas Indonesia. Di antaranya adalah Eddy Harto, Ferril Hatu, Robby Darwis, Sudirman, Toyo Haryono, Aji Santoso, Agung Setyabudi, Anang Ma'ruf, Sugiantoro, Aples Tecuari, Fachri Husaini, Hendro Kartiko, Bima Sakti, Rochy Putiray, Widodo Cahyono Putro, Kurniawan Dwi Yulianto, Budi Sudarsono, Bambang Pamungkas, Elie Aiboy, Firman Utina, dan Boaz Solossa. Cristian Gonzales menjadi satu-satunya pemain naturalisasi yang masuk daftar. Striker berdarah Uruguay itu tercatat mencetak 11 gol dalam 19 kali penampilannya bersama Tim Merah Putih.



Sabtu, 25 April 2020

FFT Indonesia Edisi Maret, April, dan Mei 2013


Entah sudah berapa lama tidak bisa menyaksikan pertandingan sepak bola di layar kaca. Sesekali melihat kembali cuplikan laga-laga menarik beberapa tim favorit lewat YouTube cukuplah menghibur hati. Lantas, membaca ulang koleksi majalah yang ada ternyata menyegarkan pikiran juga. Tiga buah FourFourTwo Indonesia edisi Maret, April, dan Mei 2013 sempat menjadi temanku menjalani waktu di rumah saja. 

Borussia Dortmund menjadi laporan utama edisi Maret 2013. Tim yang saat itu dilatih Jurgen Klopp sedang gemilang di Jerman dan menjadi favorit di Eropa dengan para pemain mudanya, seperti Robert Lewandowski, Mats Hummels, dan Mario Goetze. Parade Timnas Indonesia menjadi sajian spesial jurnalis FourFourTwo Indonesia. Ada pula laga klasik Persebaya vs Persija dalam Final Kompetisi Perserikatan 1988. Para mantan pemain AC Milan yang tergabung dalam Milan Glorie hadir di Jakarta pada Februari 2013. Franco Baresi, Paolo Maldini, Andriy Shevchenko, dkk bermain menghadapi Kurniawan Dwi Yulianto, Bambang Pamungkas, dkk yang tergabung dalam Indonesia All Star. 


Mario Balotelli yang kembali bermain di Liga Italia dan bergabung dengan AC Milan menjadi cerita penting edisi April 2013. Dalam rangka ulang tahun ke-83 PSSI, disajikanlah 83 Pemain Terkemuka Timnas Indonesia. Rekaman lensa Indonesia vs Arab Saudi pada 23 Maret 2013 tercatat sebagai histori tersendiri karena timnas kembali diperkuat para pemain terbaiknya seusai konflik internal PSSI. 


Perbincangan Jamie Carragher dan Steven Gerrard merupakan laporan utama edisi Mei 2013. 10 Duo Striker Terbaik Liga Indonesia dan 5 Duet Subur Masa Lalu menjadi persembahan khusus untuk pencinta sepak bola nasional. 

Minggu, 19 April 2020

Parade Timnas Indonesia Terbaik


Majalah FourFourTwo Indonesia edisi Maret 2013 pernah menampilkan artikel berjudul Parade Timnas Indonesia Terbaik. Sepertinya baru sejak SEA Games 1991 saya mulai mengenal nama-nama para pemain timnas, seperti Robby Darwis, Sudirman, Aji Santoso, Widodo Cahyono Putro, dan Rochy Putiray, lantas lebih menyimak kiprah timnas selanjutnya. Gol salto spektakuler Widodo di Piala Asia 1996 dan kemenangan Bambang Pamungkas dkk di Piala Asia 2007 menjadi memori indah bagi saya menyaksikan timnas secara langsung di layar kaca. 

Selamat ulang tahun ke-90 untuk PSSI. Semoga bisa mewujudkan timnas Indonesia yang membuat bahagia dan bangga para pencintanya lagi di masa depan. 




Berikut ini daftarnya : 
1.  Timnas Asian Games 1958 
2.  Timnas Asian Games 1954 
3.  Timnas Merdeka Games 1962 
4.  Timnas Olimpiade 1956 
5.  Timnas Pra-Olimpiade 1976 
6.  Timnas Pra-Piala Dunia 1986 
7.  Timnas SEA Games 1987 
8.  Timnas SEA Games 1991 
9.  Timnas Piala Asia 1996 
10.Timnas Piala Asia 2007 

Jumat, 21 Desember 2018

Koleksi Majalah Bertema AC Milan

Bertepatan dengan momentum hari lahirnya pada 16/12 lalu, aku pun mencari koleksi majalah/tabloid yang kumiliki tentang AC Milan dan berniat membacanya kembali. Ternyata ada belasan yang masih kusimpan. Selain Tabloid BOLA Premium Edition, BOLA Seri Liga Champion, Bolavaganza, dan FourFourTwo Indonesia, ada pula majalah Liga Italia, HAISOCCER, dan SOCCER. 



Tentu menyenangkan bisa mengenang kejayaan I Rossoneri di masa silam. Mengingat lagi tim yang dilatih oleh Arrigo Sacchi, Fabio Capello, Alberto Zaccheroni, Carlo Ancelotti, dan Massimiliano Allegri. Membayangkan aksi Paolo Maldini, Ruud Gullit, Dejan Savicevic, Andrea Pirlo, George Weah, Kaka, Andriy Shevchenko, Zlatan Ibrahimovic, dan masih banyak lagi pemain bintang yang pernah berkostum merah-hitam. 



Saat ini Milan berada di posisi keempat klasemen sementara Liga Italia Series A 2018/19 hingga pekan ke-16. Anak asuh Gennaro Gattuso masih menjaga peluang lolos ke Liga Champion musim depan, kendati sudah terhenti langkahnya di Liga Europa musim ini. Semoga kelak AC Milan kembali menjadi juara dan membahagiakan hati Milanisti di seluruh dunia. Forza Milan!

Rabu, 07 Februari 2018

Memori : Pemain Muda Terbaik Indonesia 2011 Versi FFT Indonesia

Dalam edisi Februari 2012, majalah FourFourTwo (FFT) Indonesia telah memilih 10 pemain muda –kelahiran tahun 1989 ke atas- yang tampil cukup menonjol sepanjang tahun 2011. Sebagian besar di antara mereka merupakan anggota timnas U-23 yang meraih medali perak SEA Games 2011 di bawah asuhan pelatih Rahmad Darmawan.
Redaktur majalah tersebut sudah tentu memiliki penilaian tersendiri di tengah minimnya data pertandingan sepak bola nasional hingga hari ini. FFT Indonesia membuat penghargaan tersebut sebagai usaha memotivasi semangat para pemain muda Indonesia dalam menatap masa depan mereka.

10 Pemain Muda Terbaik Indonesia 2011
1. Titus Bonai (22) Penyerang – Persipura
2. Kurnia Meiga (21) Kiper – Arema IPL
3. Lukas Mandowen (22) Penyerang – Persipura
4. Andik Vermansyah (20) Penyerang/Sayap – Persebaya 1927
5. Yongki Aribowo (22) Penyerang – Persisam
6. Hendro Siswanto (21) Gelandang – Arema IPL
7. Joko Sasongko (21) Gelandang – Pelita Jaya
8. Egi Melgiansyah (21) Gelandang – Pelita Jaya
9. Oktovianus Maniani (21) Penyerang/Sayap – Persiram
10.Vendry Mofu (22) Gelandang – Semen Padang



Sebagai bahan perbandingan, inilah daftar yang dibuat oleh FFT Indonesia untuk versi tahun 2010 silam. Tercatat hanya ada lima pemain yang namanya kembali tercantum di tahun 2011.

10 Pemain Terbaik Indonesia 2010
1. Oktovianus Maniani (20) Penyerang/Sayap – Sriwijaya FC
2. Kurnia Meiga (20) Kiper – Arema
3. Dendi Santoso (20) Penyerang/Sayap – Arema
4. Yongki Aribowo (21) Penyerang – Arema
5. Irfan Bachdim (22) Penyerang – Persema
6. Syamsir Alam (18) Penyerang – SAD Indonesia
7. Lukas Mandowen (21) Penyerang – Persipura
8. Johan Juansyah (22) Gelandang – Persijap
9. Andik Vermansyah (19) Gelandang Serang – Persebaya
10.Munadi (21) Gelandang – Persib

Sudah selayaknya kita menghargai apa yang dilakukan oleh majalah FFT Indonesia. Tentu kita berharap bahwa sepak bola nasional di hari mendatang berwarna lebih cerah, tidak seperti saat ini yang berwarna kusam karena terjadinya berbagai konflik kepentingan di antara pengurus PSSI dan para anggotanya sendiri. Bukankah mestinya mereka bahu-membahu membangun kebersamaan memajukan sepak bola di negeri ini? Yang jelas, jangan sampai para pemain berbakat Indonesia –semuanya saja, tidak hanya para pemain muda- akhirnya kembali menjadi korban belaka, ibarat pelanduk yang mati di tengah-tengah dua gajah yang berseteru.
Salam damai dan cinta untuk sepak bola Indonesia (jika masih ada damai dan cinta di sana) …

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com pada Februari 2012.

Senin, 25 Desember 2017

Memori : Kiper dan Bek Muda yang Mencuat Namanya

Selama ini jika ada pemain muda yang namanya mencuat ke permukaan, maka sebagian besar dari mereka pasti berposisi sebagai gelandang atau penyerang. Dalam satu dekade terakhir bisa kita ingat kembali nama-nama seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Cesc Fabregas, Wayne Rooney, Pato, Jack Wilshere, Mesut Oezil, Mario Balotelli, dan Javier ‘Chicharito’ Hernandez. Sekian bulan terakhir pun ada dua bintang muda Brasil yang diincar klub-klub raksasa Eropa. Mereka adalah Ganso (gelandang/22) dan Neymar (penyerang/19). Hampir tidak pernah terdengar ada nama kiper muda yang menjadi bintang lagi sejak Gianluigi Buffon (Italia) dan Iker Casillas (Spanyol) memulai debutnya. Mereka berdua kini telah menjadi kiper legendaris dengan prestasi hebatnya. Bek muda yang kondang malah nyaris tak pernah muncul lagi.

Tapi pada musim 2011/12 tersebutlah sejumlah bintang muda yang berposisi kiper dan bek yang cukup menonjol. Mereka adalah David de Gea (kiper/20), Chris Smalling (bek/21), dan Phil Jones (bek/19). Sebelum itu ada pula nama si kembar Fabio dan Rafael (bek/21). Kebetulan mereka semua bermain di Manchester United, klub Liga Inggris.

Di Liga Spanyol ada pula nama Raphael Varane (bek/18), pemain Prancis yang bermain di Real Madrid, dan Jordi Alba (bek/22), pemain Spanyol yang bermain di Valencia.
Ternyata eksistensi kiper dan bek muda kini telah mampu menyaingi kiprah gelandang dan penyerang muda. Mereka pun bisa memulai kebintangannya di usia muda.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan BolaVaganza No.122 - Desember 2011.

Selasa, 18 Juli 2017

Kemenangan Pertama Indonesia di Piala Asia

18 Juli 2004 merupakan hari yang bersejarah bagi sepak bola Indonesia. Tim Merah Putih meraih kemenangan untuk pertama kalinya sepanjang berpartisipasi di putaran final Piala Asia. Indonesia tergabung di Grup A Piala Asia 2004 bersama tuan rumah Cina, Bahrain, dan Qatar. Menghadapi Qatar yang dilatih Philippe Troussier di laga pertama, Indonesia yang dilatih Ivan Kolev menjadi tim yang tidak diunggulkan. Troussier saat itu merupakan salah satu pelatih top. Prestasi besarnya sebelum menangani Qatar adalah membawa Jepang menjadi juara Piala Asia 2000 dan melaju hingga perempat final Piala Dunia 2002. Namun, anak asuh Kolev ternyata mampu menghadirkan kejutan dengan mengalahkan Qatar 2-1. Dua gol Skuad Garuda diciptakan oleh Budi Sudarsono di menit ke-25 dan Ponaryo Astaman pada menit ke-48. Indonesia bahkan sempat unggul 2-0 sebelum Qatar memperkecil kekalahan di menit ke-83. Namun, itulah kemenangan satu-satunya Hendro Kartiko dkk di Piala Asia 2004. Pada pertandingan selanjutnya Indonesia kalah 0-5 dari Cina dan kalah 1-3 dari Bahrain. Elie Aiboy mencetak satu gol di laga terakhir.
Budi Sudarsono mencetak gol pembuka kemenangan Indonesia (18/7/2004).

Indonesia vs Qatar : Hendro Kartiko; Warsidi Ardi, Hary Saputra, Firmansyah; Agung Setyobudi, Alexander Pulalo (Hamka Hamzah 70'), Syamsul Chaeruddin, Ponaryo Astaman; Budi Sudarsono (Aliyudin 87'), Elie Aiboy (Agus Indra 76'), Bambang Pamungkas

Satu Dekade Aksi Indonesia di Piala Asia 2007


Barangkali tidak banyak pemerhati sepak bola nasional yang mengingat bahwa pada Juli 2017 ini adalah tepat sepuluh tahun tim nasional Indonesia beraksi di ajang Piala Asia 2007. Indonesia menjadi salah satu tuan rumah turnamen resmi AFC (Asian Football Confederation) tersebut bersama Thailand (Grup A), Vietnam (Grup B), dan Malaysia (Grup C). Tim Merah Putih yang dilatih Ivan Kolev berada di Grup D bersama Bahrain, Arab Saudi, dan Korea Selatan. Meski sebagai tuan rumah, kualitas Indonesia di atas kertas berada di bawah ketiga tim lainnya. Sebuah kejutan mewarnai Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta ketika Indonesia berhasil mengalahkan Bahrain 2-1 pada laga pertama Grup D (10/7/2007). Budi Sudarsono (menit ke-14) dan Bambang Pamungkas (64') menjadi pencetak gol kemenangan tim tuan rumah yang didukung sekitar 60.000 penonton di SUGBK, jumlah yang relatif sedikit dibandingkan dengan kapasitas stadion. Firman Utina merupakan inspirator terciptanya kedua gol dan menjadi pemain terbaik laga tersebut. Indonesia bermain dalam formasi 4-3-3. Pada babak pertama, dua gelandang bertahan Indonesia-Mahyadi Panggabean dan Ponaryo Astaman-mengalami cedera lalu digantikan oleh Eka Ramdani dan Syamsul Bachri. Posisi kapten yang semula ditempati Ponaryo pun pindah ke tangan Bambang. 

Indonesia vs Bahrain :  Jendri Pitoy;  Ricardo Salampessy, Charis Yulianto, Maman Abdurrahman, Muhammad Ridwan; Mahyadi Panggabean (Eka Ramdani 32'), Ponaryo Astaman (Syamsul Bachri 35'), Firman Utina; Elie Aiboy (Supardi 86'), Budi Sudarsono, Bambang Pamungkas.


Kegembiraan Bambang Pamungkas setelah mencetak gol kemenangan Indonesia (10/7/2007).
Dukungan penonton meningkat drastis pada dua pertandingan selanjutnya. Sekitar 87.000 penonton menyaksikan langsung di SUGBK dan tentu lebih banyak lagi yang melihatnya di depan layar televisi. Lawan selanjutnya adalah Arab Saudi (14/7). Bambang Pamungkas dkk tidak diunggulkan ketimbang tim peraih tiga kali juara Piala Asia tersebut. Babak pertama berakhir imbang 1-1 ketika Elie Aiboy (17') berhasil menyamakan kedudukan setelah Arab Saudi lebih dulu unggul 1-0. Sayang sekali, menjelang akhir laga, gawang Jendri Pitoy kebobolan untuk kedua kalinya. Indonesia pun kalah 1-2 dari Arab Saudi. 

Tim terakhir yang dihadapi anak asuh Ivan Kolev adalah Korea Selatan (18/7). Indonesia sebenarnya masih berpotensi lolos ke perempat final karena memiliki poin tiga dari dua laga, sama dengan Bahrain. Sementara Korsel sendiri baru memiliki poin satu dari hasil imbang melawan Arab Saudi dan dikalahkan Bahrain. Arab Saudi sendiri sudah pasti lolos dengan poin empat sebelum laga terakhir. Nasib baik rupanya belum berpihak pada Indonesia. Dengan memainkan Markus Horison sebagai kiper dan Ponaryo kembali sebagai kapten, Skuad Garuda sebenarnya mampu mengimbangi penampilan semifinalis Piala Dunia 2002 tersebut. Namun, gol tunggal Jung Woo Kim (34') tidak mampu dibalas oleh Bambang Pamungkas dkk. Indonesia pun gagal ke babak 8 besar dan harus puas menempati posisi ketiga Grup D dengan hasil satu kali menang dan dua kali kalah dengan selisih gol 3-4. Namun bagaimanapun, hasil di Piala Asia 2007 adalah prestasi terbaik timnas di turnamen resmi antarnegara Asia tersebut.

Maman Abdurrahman dkk kelabakan menghadapi Korsel (18/7/2007).
Akan tetapi, sungguh disayangkan bahwa satu dekade silam itulah penampilan terakhir Indonesia di turnamen Piala Asia. Tim Merah Putih gagal lolos ke putaran fina Piala Asia 2011, 2015, dan 2019. Jika dalam dua kali kesempatan (2011 dan 2015) Indonesia kandas di babak kualifikasi, maka pada kesempatan terakhir (2019) Indonesia tersisih sebelum bertanding karena sedang dihukum oleh FIFA, buah pahit terjadinya konflik PSSI-Menpora RI pada 2015 silam. Kemungkinan terbesar kembali bermain di Piala Asia adalah pada tahun 2023 mendatang.

Sebagai rasa respek dan kebanggaan saya terhadap penampilan Indonesia di Piala Asia 2007, maka hingga hari ini saya masih memasang poster berukuran besar-bonus dari Tabloid BOLA-yang menampilkan 23 pemain timnas satu dasawarsa lalu itu di kamar tidur saya. Hal itu pula yang menjadi alasan saya membuat tulisan ini.



Skuad Timnas Indonesia di Piala Asia 2007:
Kiper:  1. Jendry Pitoy (Persipura), 12. Feri Rotinsulu (Sriwijaya FC), 23. Markus Horison (PSMS)
Belakang:  
2. M. Ridwan (PSIS), 3. Erol Iba (Persik), 4. Ricardo Salampessy (Persipura), 
5. Maman Abdurrahman (PSIS), 6. Charis Yulianto (Sriwijaya FC), 14. Ismed Sofyan (Persija),
18. Firmansyah (Sriwijaya FC), 21. Hary Saputra (Persis), 22. Supardi (PSMS)
Tengah: 7. Eka Ramdhani (Persib), 9. Mahyadi Panggabean (PSMS), 11. Ponaryo Astaman (Arema),
15. Firman Utina (Persita), 16. Syamsul Bachri Chaerudin (PSM), 17. Atep (Persija)
Depan:  
8. Ellie Aiboy (Arema), 10. Rahmat Rivai (Persiter), 13. Budi Sudarsono (Persik), 
15. Zaenal Arief (Persib), 20. Bambang Pamungkas (Persija)
Cadangan: 
Achmad Kurniawan (Arema), Aris Budi Prasetyo (Persik), Bayu Sutha (Persib), Achmad Amiruddin (PSM),
Achmad Jufriyanto (Persita), Legimin Raharjo (PSMS), Irsyad Aras (PSM)


Rabu, 26 Oktober 2016

Memori : Kiprah Para Pelatih di Musim Pertama

Pada awal musim 2013/14 lalu, sejumlah klub besar Eropa menunjuk nama baru sebagai pelatih. Di antara mereka terdapat nama Carlo Ancelotti (Real Madrid), Gerardo ’Tata’ Martino (Barcelona), Josep ’Pep’ Guardiola (Bayern Muenchen), David Moyes (Manchester United), Manuel Pellegrini (Manchester City), Jose Mourinho (Chelsea), Rafael Benitez (Napoli), dan Laurent Blanc (PSG).

Ketika kompetisi berakhir, siapa pelatih tersukses di musim pertamanya? Ancelotti, Pellegrini, dan Guardiola sama-sama mengoleksi dua trofi pada akhir musim. Ancelotti membawa Los Blancos menjadi juara Liga Champion Eropa dan Copa del Rey. Pellegrini memimpin The Citizens menjuarai Liga Premier dan Piala Liga Inggris. Pep Guardiola mengomandoi Die Roten menjadi kampiun Bundesliga dan Piala Jerman. Sebelumnya, Muenchen pun berhasil menjadi juara Piala Super Eropa dan Piala Dunia Klub 2013 di bawah mantan pelatih Barcelona itu. Tapi kegagalan FC Bayern di semifinal Liga Champion (kalah agregat 0-5 dari Real Madrid) sedikit menodai rekor Guardiola yang total bisa mengumpulkan empat trofi dalam semusim.
410747_heroa
Sementara itu, Benitez dan Blanc pun mampu menghadirkan sebuah gelar kampiun bagi tim masing-masing. Napoli menjuarai Copa Italia dan PSG mempertahankan trofi juara Liga Prancis. Tata Martino dan Mourinho gagal meraih trofi apa pun. El Barca langsung menunjuk Luis Enrique sebagai arsitek baru menggantikan Tata yang mengundurkan diri. Posisi Mou sendiri tetap aman di Stamford Bridge. Tapi yang bernasib paling naas tetaplah David Moyes. MU yang merupakan juara bertahan EPL sejak jauh hari sudah tidak mampu bersaing merebut trofi. Moyes pun dipecat pada pertengahan musim, setelah mencetak sejumlah rekor buruk bagi klub. Ryan Giggs ditunjuk sebagai pelatih sementara United hanya hingga akhir musim.

Memasuki musim 2014/15, beberapa nama anyar kembali menghiasi kursi manajer klub top Benua Biru. Mereka adalah Luis Enrique (Barcelona), Louis van Gaal (Manchester United), Filippo Inzaghi (AC Milan), dan Massimiliano Allegri (Juventus). Penunjukan Enrique dan Van Gaal mendapat sambutan yang positif. Sebagai mantan bintang El Barca yang pernah sukses menangani Barcelona B, Luis Enrique diharapkan mampu menapaktilasi prestasi Guardiola untuk membawa Blaugrana berjaya kembali. Sementara itu, penampilan impresif Belanda di Piala Dunia 2014 menyembulkan optimisme bahwa Red Devils akan bangkit begitu ditangani seorang pelatih senior bermental juara. Louis van Gaal memiliki rekam jejak prestasi yang panjang, di antaranya ketika melatih Ajax Amsterdam, Barcelona, dan Bayern Muenchen. Hasil laga uji coba pramusim memperlihatkan niat Wayne Rooney dkk untuk kembali bersaing memperebutkan gelar juara di dalam negeri karena United bakal absen di Eropa. Meski sempat mengalami awal musim yang buruk, namun kehadiran sejumlah bintang seperti Angel di Maria, Daley Blind, dan Radamel Falcao membuat harapan tim Manchester Merah akan berprestasi masih tetap terjaga.

Inzaghi yang menggantikan posisi Clarence Seedorf sebenarnya masih diragukan mampu mengangkat kembali martabat Rossoneri. Seperti halnya Seedorf, Pippo masih belum berpengalaman menangani tim senior. Tapi dua tahun melatih tim junior Milan dipercaya bisa menjadi bekal bagi Inzaghi dalam menjalani debutnya sebagai pelatih klub yang pernah diperkuatnya sebagai pemain selama sebelas musim (2001-2012). Kehadiran sejumlah pemain baru seperti Alex, Jeremy Menez, Diego Lopez, Fernando Torres, dan Giacomo Bonaventura diharapkan mampu meningkatkan kinerja tim, meski Kaka, Robinho, dan Mario Balotelli telah pergi dari San Siro.

Pengunduran diri Antonio Conte sesudah membawa Juventus meraih scudetto tiga musim berurutan tentu menjadi kejutan besar bagi publik. Tapi dipilihnya Allegri pun mengundang tanda tanya dari penggemar, apalagi musim lalu Milan memecatnya di tengah jalan. Tapi pihak manajemen mungkin percaya Allegri mampu mengulangi debutnya bersama Rossoneri dahulu ketika menangani Bianconeri saat ini. Materi pemain Juve yang jelas berkualitas dan tidak banyak berubah menjadi keberuntungan tersendiri bagi Allegri, sekiranya adaptasi dapat berjalan dengan sempurna. Dan ternyata hingga pekan kedua Serie A, baik Milan maupun Juventus selalu meraih kemenangan dengan meraih poin sempurna. Kita pun mesti menunggu satu musim kembali berputar, hingga akhirnya melihat siapa gerangan para arsitek yang mampu berjaya bersama klub anyarnya.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan BolaVaganza No.156 – Oktober 2014.

Kamis, 06 Oktober 2016

Memori : Timnas Indonesia U-19 Pemuas Dahaga

Gelar juara sepak bola yang begitu lama dirindukan oleh rakyat Indonesia akhirnya tiba jua. Kerinduan itu telah mendapat jawaban nyata. Stadion Gelora Delta Sidoarjo pada Minggu malam, 22 September 2013, merupakan lokasi sekaligus saksi sejarah kesuksesan Tim Merah Putih menjadi juara Piala AFF U-19 2013, sesudah 22 tahun mengalami masa paceklik meraih trofi.
Indonesia secara dramatis mampu mengalahkan Vietnam melalui adu penalti dengan skor 7-6. Keberhasilan tim asuhan Indra Sjafri memiliki sejumlah makna tersendiri dalam perkembangan sepak bola nasional.

Mitos selalu kalah di laga final pada sejumlah turnamen resmi sejak SEA Games 1991 akhirnya pupus kini. Evan Dimas dkk sudah membuat catatan prestasi baru dalam riwayat persepakbolaan nasional. Indonesia akhirnya dapat meraih Piala AFF, meski baru pada tingkat junior. Selama kurun masa 22 tahun berlalu (1991-2013), sebenarnya timnas bisa beberapa kali tampil di pertandingan puncak, tapi senantiasa gagal menjadi kampiun.
Dalam empat tahun terakhir saja, Indonesia kandas di laga pamungkas Piala AFF 2010 (senior), SEA Games 2011 (U-23), dan Piala AFF U-16 2013. Ironisnya, dalam tiga kali kesempatan itu, tim kebanggaan kita selalu takluk dari Malaysia. Di Piala AFF U-19 2013 yang berlangsung di Jawa Timur (Sidoarjo dan Gresik), barulah Pasukan Garuda Muda mampu menghentikan langkah Malaysia sekaligus Thailand, yang kerap menggagalkan Indonesia pula di final pada masa silam, di babak penyisihan grup.

evan dimas dkk

Hanya berselang tiga pekan para pemain Tim Garuda Jaya –sebutan Indra Sjafri buat para pemainnya- kembali membuat bangga. Mereka lolos ke putaran final Piala Asia U-19 setelah menjadi juara Grup G.
Kemenangan 3-2 di laga penutup kualifikasi menghadapi juara bertahan turnamen, Korea Selatan, masuk buku sejarah. Keberhasilan timnas U-19 bukan merupakan suatu kebetulan, tapi mereka memang tim yang kuat.
Sebagian materi timnas U-19 ternyata telah bermain bersama di bawah pelatih Indra Sjafri sejak timnas U-16 beberapa tahun silam. Mereka bahkan pernah menjuarai sejumlah turnamen junior, seperti HKFA International Youth Football Invitation di Hongkong pada tahun 2012 dan 2013.

Mental Juara
Mental juara tampaknya memang mampu ditanamkan sang pelatih kepada anak-anak asuhannya. Timnas U-19 kemudian lebih berkonsentrasi menjalani pemusatan latihan selama sekitar dua bulan di Yogyakarta, termasuk menjalani uji coba dengan tim-tim lokal. Seluruh anggota tim bahkan tidak bisa pulang saat lebaran tempo hari dan mereka bersama-sama merayakan Idul Fitri di Yogyakarta. Sehabis itu mereka melanjutkan pelatnas di Jawa Timur, yang merupakan lokasi Piala AFF U-19 2013. Kerja keras dan pengorbanan mereka memang layak berbuah manis.
Ternyata tidak perlu menjalani pelatnas jangka panjang di luar negeri, seperti Italia atau Uruguay, untuk mendapatkan sebuah trofi demi mengharumkan nama tanah air tercinta. Mungkin yang lebih diperlukan adalah pelatih berkualitas yang jeli memilih pemain berkualitas dan proses pelatnas yang berkualitas pula.
Ravi Murdianto, Hansamu Yama Pranata, Evan Dimas, Ilham Udin Armaiyn, Maldini Pali, Muchlis Hadi, dan kawan-kawan kini telah menjadi idola baru pencinta sepak bola di berbagai penjuru negeri.

Mereka pantas mengemban harapan kita bahwa timnas bakal bisa berprestasi lebih apik di masa mendatang. Maka menjadi tugas PSSI agar tunas-tunas muda yang mulai bersemi itu tak menjadi layu sebelum berkembang di tengah jalan. Kita sebagai penonton setia timnas pastinya bakal mendukung dan mengawal apa pun langkah PSSI dalam proses pengembangan pemain muda yang lebih baik di semua wilayah Nusantara. Upaya maksimal yang baik kiranya akan membuahkan hasil yang bagus jua nantinya. Semoga.
Akhirnya, selamat untuk Evan Dimas dkk, semoga semakin panjang jejak prestasi kalian tapaki demi harumnya nama Indonesia di masa depan. Terima kasih karena telah membahagiakan dan membanggakan kami sebagai sebuah bangsa.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan Opini Publik Harian BOLA edisi Rabu, 16 Oktober 2013.

Senin, 29 Agustus 2016

Memori : Kiprah Pelatih Anyar Klub Besar

Ada hal yang berbeda menjelang berputarnya kompetisi liga sepak bola musim 2013/14 di sejumlah negara utama Eropa. Beberapa klub besar di Benua Biru bakal dibesut oleh pelatih anyar. Transformasi figur penting di balik layar tim tersebut melibatkan nama-nama kondang. Perubahan paling ekstrim terjadi di Liga Inggris. Tiga tim penghuni posisi empat besar Liga Primer Inggris musim lalu berganti manajer. David Moyes akan memulai petualangan barunya bersama Manchester United, setelah berakhirnya era Sir Alex Ferguson selama lebih dari dua dekade. Sebuah tugas berat bagi mantan pelatih Everton tersebut mengingat begitu berkilaunya prestasi Red Devils semasa ditangani Fergie.

Manuel Pellegrini bersedia menjawab kepercayaan petinggi Manchester City agar dapat kembali ke jalur juara. Pelatih sebelumnya, Roberto Mancini dipecat menjelang musim 2012/13 berakhir lantaran gagal memberikan satu pun trofi. Keberhasilan Pellegrini membawa Malaga sebagai tim kuda hitam di Liga Spanyol dan Liga Champion menjadi alasan City merekrutnya. Jose Mourinho kembali ke Chelsea, klub yang menurutnya senantiasa mencintainya sekaligus dia cintai. Sesudah frustrasi di Real Madrid karena terjadinya konflik internal, Mourinho mencoba mengulangi kejayaannya di masa lalu bersama The Blues sejak musim depan.

Carlo Ancelotti akhirnya bersedia hijrah dari PSG menuju Madrid menggantikan Mourinho. Ancelotti sudah pernah sukses menjadi kampiun bersama AC Milan, Chelsea, dan PSG. Bos Madrid, Florentino Perez tentu sangat berharap Don Carlo mampu memberikan trofi ke-10 Liga Champion bagi Los Blancos dan kembali menumbangkan dominasi Barcelona di La Liga.

Josep ‘Pep’ Guardiola melatih tim luar negeri pertamanya, Bayern Muenchen, yang baru saja meraih prestasi fantastis bersama Jupp Heynckes musim kemarin. Pep mempertaruhkan prestasi fenomenalnya bersama Barcelona tempo hari di klub raksasa Bundesliga tersebut.
Rafael Benitez kembali ke Italia untuk menangani Napoli. Sekian tahun silam pelatih asal Spanyol tersebut pernah menangani Inter dan memberikan trofi Piala Dunia Klub, namun dipecat sehabis itu. Musim lalu Benitez sukses meraih Piala Europa bersama Chelsea.
Walter Mazzari berupaya mengangkat kembali Inter Milan yang babak belur musim lalu. Dia datang dengan bekal prestasi membawa Napoli menempati peringkat kedua Serie A 2012/13.

Sangat menarik untuk menyaksikan kiprah para pelatih tersebut bersama klub barunya. Adakah di antara mereka yang sukses mempersembahkan gelar juara pada musim pertamanya? Moyes, Pellegrini, Mourinho, Ancelotti, Guardiola, Benitez, dan Mazzari akan menjawabnya pada pengujung musim mendatang.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan BolaVaganza No.142 – Agustus 2013.

Rabu, 10 Agustus 2016

Memori : Kebangkitan Personel Madrid

Real Madrid sukses merengkuh Piala Super Eropa 2014 dengan menaklukkan Sevilla 2-0 di Stadion Cardiff City pada Selasa (12/8). Cristiano Ronaldo memborong dua gol memanfaatkan assist dari Gareth Bale dan Karim Benzema. Dalam laga sesama klub Spanyol tersebut, Carlo Ancelotti langsung menurunkan dua personel terbarunya -Toni Kroos dan James Rodriguez- di lini tengah Los Blancos sejak sepak mula. Bagi mereka berdua, Piala Super Eropa menjadi trofi pertama mereka bersama El Real. Untuk Kroos terasa istimewa karena baru Juli lalu dia turun penuh membela Jerman menjadi juara Piala Dunia 2014. James digantikan Isco sebelum laga usai, tapi setidaknya sudah mencatat debut cemerlang bersama klub barunya.



Selain dua punggawa anyarnya yang merupakan bintang Piala Dunia 2014, mayoritas pemain Madrid sesungguhnya bernasib kurang baik di Brasil. Enam pemain yang menjadi starter saat melawan Sevilla pulang awal karena gagal di fase grup. Mereka adalah Iker Casillas, Sergio Ramos, Pepe, Fabio Coentrao, Luca Modric dan Ronaldo. Bemzema masih bermain hingga perempat final, sementara Dani Carvajal dan Bale tidak bermain di Piala Dunia.

Kemenangan atas Sevilla menjadi momentum kebangkitan bagi Casillas dkk. Bagi sang kapten, hal itu menjadi kredit poin bahwa dia masih bisa diandalkan sebagai kiper utama, meski sempat tampil buruk bersama Spanyol dan Keylor Navas sudah dihadirkan untuk bersaing dengannya. CR7 pun bisa melupakan kegagalannya saat membela Portugal. Bersama Los Merengues, dia membuktikan dirinya sebagai sang juara. Dua gol yang dicetaknya di Cardiff membuat mantan bintang Manchester United itu kini mengoleksi 70 gol di pentas antarklub Eropa. Rekor itu sejajar dengan milik Filippo Inzaghi (Juventus dan AC Milan) dan melampaui Lionel Messi (Barcelona) yang mengumpulkan 68 gol. Tinggal enam gol yang diperlukan Ronaldo untuk menyamai rekor Raul Gonzales (Real Madrid dan Schalke) yang masih menjadi pencetak gol terbanyak Eropa dengan 76 gol.

Setelah juara Liga Champion dan Copa del Rey musim lalu, Piala Super Eropa 2014 menjadi awal yang baik untuk Madrid mengawali musim baru. Masih ada lima trofi berikutnya yang menjadi target Los Merengues sepanjang musim 2014/15. CR7 dkk jelas berpotensi besar mewujudkannya. Hala Madrid!

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan Mingguan BOLA Edisi 2.576/2014.

Rabu, 03 Agustus 2016

Memori : Kontribusi Inggris untuk Sukses Spanyol

Spanyol telah memperlihatkan kehebatannya dengan menjadi juara Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012 secara berurutan dalam kurun masa empat tahun. Selain materi pemainnya yang selalu berkualitas bagus, peran besar pelatih Luis Aragones (2008) dan Vicente del Bosque (2010-2012) untuk menanamkan spirit kebersamaan di dalam tim menjadi kunci sukses La Furia Roja. Selama sekian tahun terakhir, spirit kebersamaan itu kian menguat dan makin menyatukan para pemain. Bahkan para pemain Real Madrid dan Barcelona yang selalu dalam tensi tinggi ketika memperkuat klubnya dalam laga ‘El Clasico’ pun mampu bersatu padu secara harmonis bersama timnas Spanyol.

Namun ada satu hal yang unik lainnya. Dalam tiga kali kesempatan Spanyol menjadi juara, ternyata senantiasa tercantum nama pemain yang memperkuat klub-klub di Liga Inggris. Jumlah mereka memang tidak banyak, karena mayoritas anggota skuad Tim Matador 2008-2012 bermain di Liga Spanyol. Namun keberadaan mereka tentu tak bisa dipandang sebelah mata.

Pada Piala Eropa 2008, terdapat nama Xabi Alonso, Fernando Torres, Alvaro Arbeloa, Pepe Reina (Liverpool), serta Cesc Fabregas (Arsenal). Torres merupakan pencetak gol kemenangan Spanyol atas Jerman di final Euro 2008. Ketika Piala Dunia 2010 masih ada Torres, Reina (Liverpool), dan Fabregas (Arsenal). Alonso dan Arbeloa telah hijrah ke Real Madrid. Jangan pula dilupakan bahwa Gerard Pique (Barcelona) merupakan mantan pemain Manchester United. Prestasi terbaru Spanyol di Piala Eropa 2012 tak lepas dari peran David Silva (Manchester City), Torres, dan Juan Mata (Chelsea). Reina masih tetap pemain Liverpool dan setia berada di bangku cadangan. Fabregas sudah kembali memperkuat Barcelona, klub masa remajanya.

Silva, Torres, dan Mata yang bermain di Liga Inggris ikut menyumbang gol kemenangan Spanyol atas Italia (4-0) di final Euro 2012. Sebelum turnamen di Polandia-Ukraina, ketiga pemain tersebut sudah lebih dulu merasakan gelar juara musim 2011-2012 bersama klubnya masing-masing. City adalah juara Liga Premier Inggris, sedangkan Chelsea merupakan juara Liga Champion dan Piala FA. Sementara itu Fernando Torres mendapat penghargaan sebagai pencetak gol terbanyak Euro 2012, meski tidak selalu menjadi pemain inti dan ada lima pemain lainnya yang sama-sama membakukan tiga gol. El Nino pun tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya pemain yang selalu mencetak gol dalam dua kali final Piala Eropa, sekaligus membawa timnya menjadi jawara.
Mungkin bisa dikatakan bahwa Liga Inggris pun memiliki andil -secara tidak langsung- terhadap sukses La Furia Roja dalam empat tahun terakhir ini. Ironisnya, catatan prestasi tim nasional Inggris sendiri semakin jauh tertinggal ketimbang Spanyol.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan BolaVaganza No.130 – Agustus 2012.


Senin, 13 Juni 2016

Memori : Berkah Tersembunyi Spanyol

Barcelona dan Real Madrid, dua klub raksasa Spanyol yang digadang-gadang bakal tampil dalam ‘final impian’ di Fussball Arena Muenchen 19 Mei 2012, ternyata kandas di semifinal. Penggemar kedua tim yang tersebar di seluruh dunia sudah pasti sangat kecewa dengan fakta yang ada. Demikian pula rakyat Spanyol yang semula berharap dua wakil mereka di Liga Champion bisa memperpanjang daftar prestasi dan lebih mengharumkan nama negaranya di kancah sepak bola Eropa dan dunia. Kendati demikian mungkin ada satu orang Spanyol yang justru tersenyum melihat kegagalan Barca dan Madrid. Dia adalah Vicente Del Bosque, pelatih timnas Spanyol saat ini. Mantan pelatih Real Madrid yang mirip tokoh komik Obelix tersebut menjadi orang yang paling khawatir apabila ‘el clasico’ kembali berlangsung di Muenchen.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, baik Barca maupun Madrid merupakan penyumbang terbesar skuad Tim Matador. Merekalah tulang punggung timnas Spanyol hingga mampu meraih sukses di Piala Eropa 2008 maupun Piala Dunia 2010. Paling tidak ada delapan bahkan bisa sampai belasan pemain Spanyol berasal dari kedua klub tersebut dan sebagian besar di antaranya merupakan pemain inti. Dari Blaugrana kita bisa menyebut nama Victor Valdes, Carles Puyol, Gerard Pique, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan Cesc Fabregas. Sementara di Los Blancos terdapat nama Iker Casillas, Sergio Ramos, Alvaro Arbeloa, dan Xabi Alonso.

Pada Euro 2012 di Polandia-Ukraina, Spanyol berada di Grup C bersama Italia, Republik Irlandia, dan Kroasia. Biarpun Italia di atas kertas merupakan lawan terberat bagi Spanyol, namun kekuatan Irlandia dan Kroasia pun tidak boleh dipandang sebelah mata. Tidak mudah bagi Iker Casillas dkk untuk mempertahankan gelar juara yang diraihnya di Euro 2008. Apalagi saat ini Spanyol juga berstatus sebagai juara dunia, sehingga tim mana pun lebih termotivasi untuk menundukkannya.

Meski pemain Spanyol di Barca dan Madrid bisa lebih dini bergabung dalam pemusatan latihan, tapi masih ada dua andalan Spanyol yang datang belakangan. Juan Mata dan Fernando Torres mesti memperkuat Chelsea menghadapi Bayern Muenchen di final Liga Champion 2011/12. Namun tetap saja kegagalan Barca dan Madrid layak disebut sebagai berkah tersembunyi bagi Spanyol dalam persiapannya menghadapi Piala Eropa 2012. Semoga Tim Matador kembali berjaya di Polandia-Ukraina.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan BolaVaganza No.128 - Juni 2012.




Rabu, 25 Mei 2016

Memori : Gelar ke-10 Madrid Tanpa Pemain Nomor 10

Selebrasi Real Madrid ketika menjuara Liga Champion 2013/14.

Real Madrid akhirnya menutup kompetisi antarklub Eropa 2013/14 dengan menjadi juara Liga Champion untuk kesepuluh kalinya. La Decima akhirnya berhasil diejawantahkan oleh Los Blancos besutan Carlo Ancelotti. El Real mengukir sejarah manisnya dengan menang 4-1 atas Atletico Madrid di Estadio da Luz, Lisabon, Portugal pada Sabtu malam (24/5) waktu setempat. Derbi Madrid dalam partai puncak antarklub juara Eropa tersebut berlangsung sangat dramatis.

Los Colchoneros lebih dulu unggul di babak pertama melalui gol sundulan Diego Godin pada menit ke-36. Namun gol sundulan Sergio Ramos mampu membuyarkan kemenangan tim lawan pada menit ke-93. Tim asuhan Diego Simeone cenderung melemah dan tampil antiklimaks di babak perpanjangan waktu. Sementara itu, Cristiano Ronaldo dkk justru terbakar kembali semangatnya bagaikan bangkit dari kematian. Obsesi mewujudkan la decima ternyata masih ada dan belumlah sirna. Tiga gol yang dibuat Gareth Bale (110’), Marcelo (118’), dan CR7 (120’-penalti) pada babak kedua extra time akhirnya memastikan kemenangan Los Merengues atas tim sekotanya.

Berbagai rekor baru pun bermunculan. Real Madrid kian perkasa di Eropa dengan 10 trofi Piala/Liga Champion yang dikoleksinya. Carlo Ancelotti untuk ketiga kalinya menjadi kampiun Liga Champion sebagai pelatih, setelah dua kali sebelumnya diraihnya bersama AC Milan. Pria Italia tersebut juga pernah dua kali menjuarai Piala Champion sebagai pemain Rossoneri. Cristiano Ronaldo menjadi pencetak gol terbanyak Liga Champion dengan 17 gol yang merupakan rekor baru dalam semusim. CR7 kini mengoleksi total 68 gol (107 laga) dalam daftar top scorer Liga Champion sepanjang masa dan hanya kalah dari Raul Gonzales (71 gol).

Gareth Bale membuktikan bahwa kehadirannya ke Santiago Bernabeu memang tidak percuma. Mantan pemain Tottenham Hotspur itu pun mencetak gol di final Copa del Rey 2014 yang dimenangi Madrid. Iker Casillas sekali lagi menunjukkan kualitasnya sebagai kapten tim kampiun. Casillas telah membawa Spanyol juara Piala Dunia 2010 dan dua kali mengangkat trofi Piala Eropa dalam enam tahun terakhir. Musim ini San Iker memimpin Madrid meraih dua gelar juara. 


Terakhir, ada satu hal yang unik. Los Galacticos ternyata meraih trofi ke-10 di Eropa tanpa pemain bernomor 10. Pada awal musim 2013/14 masih ada Mesut Oezil bermain di sektor tengah, namun ia lantas dijual ke Arsenal, dan kostum nomor 10 Los Blancos pun dibiarkan kosong hingga akhir musim. Meski tidak sebahagia mantan rekan-rekannya di Madrid, Oezil pun bisa tersenyum ceria karena membawa The Gunners menjuarai Piala FA 2014, sekaligus mengakhiri paceklik gelar tim asuhan Arsene Wenger selama sembilan musim.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan Mingguan BOLA Edisi 2.564/2014.