Tampilkan postingan dengan label indonesia vs thailand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia vs thailand. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Januari 2022

Indonesia Tahan Imbang Thailand

Indonesia menahan imbang Thailand 2-2 dalam final kedua Piala AFF 2020 yang dimainkan pada Sabtu (1/1/22) di Stadion Nasional Singapura. Ricky Kambuaya lebih dahulu membobol gawang Thailand hingga Indonesia memimpin 1-0 pada babak pertama. Thailand bangkit pada babak kedua dengan dua kali membobol gawang Nadeo Argawinata. Gol Egy Maulana Vikri membuat kedudukan menjadi sama kuat dan skor 2-2 tidak berubah hingga akhir pertandingan.

Thailand dipastikan kembali menjuarai Piala AFF edisi kali ini. Namun, anak asuh Shin Tae-yong mampu bangkit dari kekalahan telak pada final pertama dan mampu mengimbangi anak asuh Alexandre Polking pada final kedua.

Kendati gagal meraih trofi, ada sejumlah hadiah hiburan bagi Tim Merah Putih. Pratama Arhan terpilih sebagai pemain muda terbaik. Beberapa pemain timnas menjadi pemain terbaik pertandingan, Ricky Kambuaya dua kali meraihnya termasuk dalam final kedua. Selain itu Indonesia juga menjadi Tim Fair Play. 

Tim besutan STY merupakan tim dengan rata-rata usia termuda (23,7 tahun) yang pernah tampil di final Piala AFF. Semoga PSSI memberi kesempatan panjang bagi pelatih asal Korsel tersebut dalam menangani Asnawi Mangkualam dkk agar bisa lebih berprestasi di masa depan.

Secara statistik Indonesia menjadi tim paling produktif dengan 20 gol yang dibuat oleh 10 pemain. Irfan Jaya mencetak tiga gol. Dari 30 pemain yang dibawa ke Singapura terdapat 27 pemain yang diberi kesempatan bermain oleh STY.

Materi timnas Indonesia vs Thailand (1/1/22) :

23.Nadeo Argawinata; 14.Asnawi Mangkualam (k), 19.Fachruddin Aryanto, 28.Alfeandra Dewangga, 12.Pratama Arhan; 13.Rachmat Irianto (6.Evan Dimas), 15.Ricky Kambuaya; 10.Egy MV, 8.Witan Sulaeman, 20.Ramai Rumakiek (25.Irfan Jaya); 27.Dedik Setiawan (29.Hanis Sagara) (17.Syahrian Abimanyu).

Kamis, 30 Desember 2021

Indonesia Kalah 0-4 di Final Pertama

Indonesia kalah telak 0-4 dari Thailand dalam final pertama Piala AFF 2020 yang berlangsung Rabu (29/12/21) di Stadio Nasional Singapura. Setelah menyingkirkan Vietnam di semifinal, Thailand mampu menunjukkan dirinya kembali sebagai tim terbaik di Asia Tenggara.


Tim Merah Putih tertinggal 0-1 di awal pertandingan dan bisa bertahan hingga babak pertama usai. Sayang sekali, gawang Nadeo Argawinata tiga kali lagi dibobol oleh para pemain Thailand yang bermain luar biasa. Kemenangan telak Thailand pada final pertama membuat final kedua nanti sebatas laga formalitas. Meskipun di kompetisi antarklub Eropa ada beberapa contoh tim yang mampu membalikkan keadaaan setelah kalah telak di laga pertama, tapi hal itu tampaknya belum pernah terjadi dalam kompetisi antarnegara Asia.

Materi timnas Indonesia vs Thailand (29/12/21) :
23.Nadeo Argawinata; 14.Asnawi Mangkualam (k), 5.Rizky Ridho, 19.Fachruddin Aryanto (30.Elkan Baggott), 28.Alfeandra Dewangga, 3.Edo Febriansyah (6.Evan Dimas); 8.Witan Sulaeman, 13.Rachmat Irianto (18.Kadek Agung), 15.Ricky Kambuaya (10.Egy MV), 25.Irfan Jaya (20.Ramai Rumakiek), 27.Dedik Setiawan.

Jumat, 04 Juni 2021

Indonesia Tahan Imbang Thailand 2-2

Shin Tae-yong menjalani debutnya menangani timnas Indonesia dalam laga resmi bertajuk Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia menghadapi Thailand yang berakhir imbang dengan skor 2-2. Pertandingan tersebut dimainkan di Stadion Al Maktoum, Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) pada Jumat (3/6/21) malam waktu setempat. Tim Merah Putih tampil dengan mayoritas pemain muda yang belum pernah memperkuat timnas senior. Rata-rata usia pemain timnas adalah 22,8 tahun. Evan Dimas yang dipercaya sebagai kapten merupakan satu-satunya pemain yang tersisa dari tim besutan Simon McMenemy yang selalu menderita kekalahan dalam lima laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 sebelumnya pada tahun 2019. 

Tidak hanya tampil dengan pelatih baru dan sejumlah pemain baru, skuat Garuda juga bertanding dengan kostum anyar dari Mills, produsen apparel lokal. Evan Dimas dkk juga membawa semangat bermain yang baru dan jauh berbeda dengan tim terdahulu. Dua kali tertinggal dan dua kali pula anak asuh STY mampu menyamakan kedudukan. Kadek Agung dan Evan Dimas menjadi pencetak gol timnas.

Yang cukup menarik perhatian adalah formasi tim kali ini. Sebelumnya dalam sejumlah ujicoba yang dimainkan timnas U-19 dan timnas U-22, STY selalu menerapkan formasi 4-4-2. Namun, ketika menghadapi Thailand justru formasi 4-2-3-1 yang dimainkan. Kabarnya, dalam dua ujicoba terakhir menghadapi Afghanistan dan Oman, STY mencoba formasi 4-4-2 dan 4-2-3-1 pada anak asuhnya. Ternyata hasilnya adalah poin pertama dalam Kualifikasi Piala Dunia 2022. Yang juga layak dicatat adalah keberadaan sejumlah pemain timnas yang bermain di luar negeri. Mereka adalah Asnawi Mangkualam (Ansan Greeners - Korea Selatan), Syahrian Abimanyu (Newcastle Jets- Australia), Egy MV (Lechia Gdansk - Polandia), dan Witan Sulaeman (FK Radnik Surdulica - Serbia).

Yang jelas, cukup menyenangkan melihat aksi pertama tim besutan pelatih Korea Selatan dalam sebuah pertandingan resmi. Ada progres dalam proses yang dijalani para pemain kita. Semoga performa Evan Dimas dkk bisa terus meningkat ketika melawan Vietnam, UEA, dan menghadapi sejumlah turnamen lainnya di masa depan.

Materi pemain Indonesia vs Thailand :

1.Nadeo Argawinata; 14.Asnawi Mangkualam, 2.Arif Satria, 4.Rizky Ridho, 11.Pratama Arhan; 17.Syahrian Abimanyu (7.Genta Alparedo), 22. I Kadek Agung Widyana (13.Rachmat Irianto); 10.Egy Maulana Vikry (20.Osvaldo Haay), 6.Evan Dimas (k), 8. Witan Sulaeman (18.Adam Alis); 9. Kushedya Hari Yudo (15.Muhammad Rafli)

Rabu, 16 Agustus 2017

Indonesia Imbangi Thailand Awali SEA Games 2017

Perjalanan timnas U-22 Indonesia untuk meraih medali emas di SEA Games 2017 Malaysia telah dimulai pada Selasa (15/8/2017) kemarin di Stadion Shah Alam. Anak asuh Luis Milla bermain imbang 1-1 dengan Thailand, raja sepak bola Asia Tenggara sekaligus peraih medali emas SEA Games 2013-2015 di babak penyisihan Grup B. Kendati mampu menekan lawan sejak awal laga, Tim Merah Putih justru lebih dahulu tertinggal 0-1 di menit ke-14 ketika Chaiwat Buran berhasil memanfaatan kesalahan kiper Kurniawan Kartika Ajie. Semangat pantang menyerah yang ditunjukkan Hansamu Yama dkk di babak kedua akhirnya berbuah tendangan penalti setelah Osvaldo Haay dijatuhkan di dekat gawang Thailand. Sempat ada kekosongan sejenak, seperti ada kebingungan di antara para pemain Indonesia, sebelum akhirnya Septian David Maulana maju untuk mengambil tendangan penalti dan mampu membobol gawang Thailand. Gol yang menyamakan kedudukan itu terjadi di menit ke-61. Kedua tim silih berganti saling menyerang, tapi tiada lagi gol tercipta. Berdasarkan data statistik, penguasaan bola di antara keduanya seimbang, 50%-50%. Sebuah awal yang cukup bagus untuk Skuat Garuda dalam menjalani empat laga berikutnya.
Hansamu Yama dkk melangkah tegap memasuki lapangan pertandingan.
Pertandingan kedua Indonesia adalah menghadapi Filipina yang berlangsung Kamis (17/8) besok, bertepatan dengan HUT RI ke-72. Semoga timnas tampil lebih baik lagi dan mampu meraih kemenangan, yang bisa menjadi kado indah untuk rakyat Indonesia yang sedang berbahagia. Yang jelas, Filipina bukan lawan mudah. Di laga pertama mereka menang 2-0 atas Kamboja dan menempati posisi kedua klasemen. Vietnam memimpin Grup B sesudah mengalahkan Timor Leste 4-0. Indonesia dan Thailand berada di nomor 3-4, sementara Kamboja dan Timor Leste menempati nomor 5-6. Perjalanan masih panjang, mudah-mudahan performa Hansamu Yama dkk bakal terus menanjak hingga laga pamungkas memperebutkan medali emas.
Septian David Maulana, pencetak gol tunggal Indonesia ke gawang Thailand.
Materi pemain Indonesia vs Thailand :
20-Kurniawan Kartika Ajie; 11-Gavin Kwan, 23-Hansamu Yama (k), 15-Ricky Fajrin, 28-M.Rezaldi Hehanusa; 8-M.Hargianto, 6-Evan Dimas, 29-Septian David Maulana (14-Asnawi Mangkualam 75'); 13-Febri Hariyadi (17-Saddil Ramdani 65'), 25-Osvaldo Haay (11-Yabes Roni 84'), 24-Marinus Wanewar. 

Minggu, 18 Desember 2016

Mimpi Juara Belum Jadi Nyata

Mimpi Indonesia menjadi juara Piala AFF 2016 belum bisa menjadi kenyataan. Kendati mengantungi kemenangan 2-1 dalam final pertama, tapi kekalahan 0-2 dari Thailand pada Sabtu (17/12) membuat skuat Garuda kalah agregat 2-3 dan tak mampu pulang membawa trofi Piala AFF pertamanya. Sirroch Chattong memborong dua gol Thailand, yang masing-masing dibuat di menit ke-37 dan 47. Bermain tanpa Andik Vermansah yang cedera, Zulham Zamrun yang menggantikannya tak mampu bermain sebagus Andik. Namun, secara keseluruhan penampilan Boaz Solossa dkk di Stadion Rajamangala Bangkok memang tak secemerlang ketika bermain di depan pendukungnya di Stadion Pakansari Bogor. 

Thailand kian mengukuhkan dirinya sebagai raja sepak bola ASEAN nan sejati. Piala AFF telah lima kali diraih tim Gajah Perang. Sedangkan bagi Indonesia, kegagalan tahun ini merupakan yang kelima kali sepanjang sejarah Piala AFF sejak tahun 1996. Indonesia masih sebatas pangeran sepak bola di Asia Tenggara yang belum juga mencicipi tahta tertinggi mengikuti jejak Thailand (5 klai juara), Singapura (4), Vietnam (1), dan Malaysia (1).

Biarpun akhirnya menelan pil pahit di partai pamungkas, tapi apa yang sudah ditampilkan tim Merah-Putih sepanjang turnamen tetap layak mendapat apresiasi. Indonesia, yang baru terlepas dari sanksi FIFA dan memiliki berbagai kendala selama persiapannya, mampu terus melaju hingga laga terakhir untuk menantang juara bertahan Piala AFF yang sekaligus tim terbaik ASEAN sepanjang masa. Tiada yang menduga langkah skuat Garuda bakal sejauh ini.

Apa yang dicapai anak asuh Alfred Riedl di Piala AFF 2016 mesti menjadi bekal berharga bagi pengurus baru PSSI yang dikomandani Letnan Jenderal Edy Rahmayadi, bagaimana menata sepak bola Indonesia agar menjadi lebih baik seusai terbenam dalam keterpurukan. Materi timnas yang ada cukup menjanjikan di masa depan karena terdiri dari mayoritas pemain muda yang seiring waktu akan ditempa lebih banyak pengalaman yang mematangkan fisik maupun mentalnya dalam bermain sepak bola membawa nama Indonesia. Terima kasih untuk timnas Indonesia menjadi sesuatu yang sangat pantas kita ucapkan. Berkat penampilan mereka di semifinal dan final Piala AFF 2016, bangsa Indonesia, yang akhir-akhir ini terpecah-belah oleh berbagai isu, untuk sementara bisa bersatu memberi dukungan kepada timnas sepak bolanya. Boaz Solossa dkk menjadi bukti nyata masih adanya persatuan Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.

Susunan pemain Indonesia :
1.Kurnia Meiga; 2.Beny Wahyudi (11.Dedi Kusnandar 46'), 16.Fachruddin Aryanto, 23.Hansamu Yama, 3.M.Abduh Lestaluhu; 13.Manahati Lestusen, 16.Bayu Pradana; 10.Zulham Zamrun (12.Lerby Eliandry 64'), 8.Stefano Lilipaly, 14.Rizky Pora (9.Ferdinand Sinaga 73'); 7.Boaz Solossa
Cadangan :
22.Teja Paku Alam, 26.Andritany Ardhiyasa; 4.Abdul Rachman, 13.Rudolf Yanto Basna, 27.Gunawan Dwi Cahyo; 6.Evan Dimas Darmono, 18.Bayu Gatra. 21.Andik Vermansah (cedera); 17.Muchlis Hadi

Rabu, 14 Desember 2016

Indonesia Menang di Final Pertama

Indonesia berhasil mengalahkan Thailand 2-1 dalam final pertama Piala AFF 2016 yang berlangsung Rabu (14/12) di Stadion Pakansari, Bogor. Alfred Riedl menurunkan materi pemain yang sama ketika bermain imbang 2-2 dengan Vietnam di semifinal kedua sepekan silam. Formasi yang dipakai adalah 4-2-3-1. Skuat Garuda harus bermain tanpa Andik Vermansah yang menderita cedera dan digantikan oleh Zulham Zamrun pada menit ke-19. Barangkali ada yang lantas mengingat cederanya Cristiano Ronaldo dalam partai puncak Euro 2016 antara Portugal versus Prancis, yang akhirnya dimenangkan Selecao sekian bulan lalu. Ternyata demikian pula yang terjadi dalam laga Indonesia melawan Thailand. Tim tamu sempat membuat pendukung tim Merah-Putih terhenyak kala Teerasil Dangda membobol gawang Kurnia Meiga di menit ke-33. Boaz Solossa dkk tertinggal 0-1 hingga babak pertama berakhir. 

Indonesia akhirnya bisa tampil lebih apik di babak kedua. Tendangan keras Rizky Pora dari luar kotak penalti -yang membentur bek Thailand- menghasilkan gol penyama kedudukan di menit ke-65. Tak lama berselang, sepak pojok yang dilakukan Rizky berhasil disundul oleh Hansamu Yama dan membuat tim tuan rumah unggul 2-1. Rizky dan Hansamu kebetulan bermain di klub yang sama, Barito Putera. Menjadi aktor penting kemenangan timnas dengan satu gol dan satu assist membuat Rizky Pora terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan.

Kemenangan di final pertama membuat langkah tim Merah-Putih untuk merengkuh trofi menjadi kian terbuka. Namun, kegembiraan atas hasil di Stadion Pakansari tak perlu berlebihan karena perjuangan belum usai. Semoga Indonesia bisa menahan imbang Thailand di semifinal kedua Sabtu (17/12) mendatang agar Piala AFF memiliki juara anyar di tahun 2016. 

Susunan pemain Indonesia :
1.Kurnia Meiga; 2.Beny Wahyudi (12.Lerby Eliandry 69'), 16.Fachruddin Aryanto, 23.Hansamu Yama, 3.M.Abduh Lestaluhu; 16.Bayu Pradana, 25.Manahati Lestusen; 21.Andik Vermansah (10.Zulham Zamrun 19'), 8.Stefano Lilipaly, 14.Rizky Pora; 7.Boaz Solossa (9.Ferdinand Sinaga 78')
Cadangan :
22.Teja Paku Alam, 26.Andritany Ardhiyasa; 3.Abdul Rachman, 13.Rudolf Yanto Basna, 27.Gunawan Dwi Cahyo; 6.Evan Dimas Darmono, 11.Dedi Kusnandar, 18.Bayu Gatra; 17.Muchlis Hadi

Jejak Juara Tim Merah di Tahun 2016

Indonesia telah tiba di partai puncak Piala AFF 2016, yang bernama resmi AFF Suzuki Cup 2016. Sebuah pencapaian yang di luar dugaan dan tentu hal yang layak disyukuri. Masih ada dua pertandingan lagi yang mesti dilewati untuk meraih gelar juara, yaitu menghadapi Thailand dalam final yang berlangsung dalam sistem kandang (14/12) dan tandang (17/12). Final pertama akan berlangsung pada Rabu (14/12) di Stadion Pakansari, Bogor. Tempat tersebut untuk kedua kalinya akan menjadi wahana timnas dalam melakoni pertandingan internasional, setelah sebelumnya Indonesia mengalahkan Vietnam 2-1 pada semifinal pertama Piala AFF 2016 yang berlangsung Sabtu (3/12). 

Penggemar sepak bola di tanah air tentu mengerti bahwa di atas kertas Thailand memang lebih layak diunggulkan berjaya, baik ditinjau secara teknis maupun fakta pertemuan kedua tim. Thailand merupakan raja sepak bola Asia Tenggara yang belum tergantikan dan empat kali menjuarai Piala AFF (1996, 2000, 2002, dan 2014). Dua kali skuat Garuda ditaklukkan pasukan Gajah Perang di partai puncak turnamen tahun 2000 dan 2002, yang waktu itu kondang disebut dengan Piala Tiger. Namun, terdapat sejumlah fakta menarik yang bersifat nonteknis dan mungkin membuat kita bisa berpikir positif mengenai nasib tim Merah-Putih akhir tahun ini.

Tahun 2016 merupakan tahun kejayaan bagi tim-tim yang memiliki kostum utama berwarna merah dalam turnamen antarnegara. Cile menjadi juara Copa America Centenario 2016 di Amerika Serikat setelah menundukkan Argentina lewat adu penalti 4-2 (0-0) pada 26 Juni 2016. Sementara itu, Portugal menaklukkan tuan rumah Prancis 1-0 dalam final Euro 2016 pada 11 Juli 2016 dan menjadi trofi Piala Eropa pertama bagi negaranya Cristiano Ronaldo. Cile dan Portugal tidak hanya sama-sama mengenakan kostum merah, tapi sponsor kedua tim pun tak berbeda, yaitu Nike. Entah kebetulan atau bukan, lawan yang dikalahkan di final menggunakan kostum biru dan cenderung lebih diunggulkan. 

Lionel Messi dkk lebih dijagokan menang karena setahun sebelumnya ditaklukkan Alexis Sanchez dkk di final Copa America 2015, sehingga lebih termotivasi untuk menghapus luka. Argentina pun sempat menang 2-1 atas Cile di babak penyisihan Copa America Centenario 2016. Kedua tim lolos ke babak perempat final sebagai juara dan runner-up Grup D, lantas bertemu lagi di pertandingan pamungkas turnamen. Ternyata Argentina mesti menelan pil pahit untuk ketiga kalinya setelah kalah di final Piala Dunia 2014 dan Copa America 2015. Messi bahkan sempat menyatakan diri pensiun dari timnas Argentina saking dalamnya duka yang dirasakannya, meski akhirnya dia bersedia kembali bermain di Kualifikasi Piala Dunia 2018 beberapa bulan kemudian.



Sebagai tuan rumah Euro 2016, tentu pantas Prancis mendapat peluang lebih besar memenangi turnamen. Apalagi sejarah manis pernah mencatat Le Bleus menjuarai Piala Eropa 1984 dan Piala Dunia 1998 ketika menjadi tuan rumah. Prancis juga pernah dua kali berjaya di Eropa setiap 16 tahun sekali (1984 dan 2000) dan tahun 2016 momentumnya telah tiba kembali. Perjalanan Antonie Griezmann dkk menuju final juga lebih mentereng ketimbang Cristiano Ronaldo dkk. Prancis menjadi juara Grup A dengan dua kali menang dan sekali imbang, sedangkan Portugal lolos ke fase knock-out sebagai peringkat ketiga Grup F, di bawah Hongaria dan Islandia. Tim asuhan Didier Deschamps mulus menyingirkan Irlandia (2-1), Islandia (5-2), dan Jerman (2-0) menuju final. Tim besutan Fernando Santos agak terseok-seok menundukkan Kroasia (1-0) dan Polandia (adu penalti 5-3), sebelum mengandaskan Wales (2-0) di semifinal. Portugal yang justru meraih trofi dengan menang 1-0 lewat perpanjangan waktu, kendati Ronaldo hanya bermain sebentar karena didera cedera.

Indonesia laksana memiliki benang merah untuk mengikuti jejak juara Cile dan Portugal. Uniknya, ketiga tim memiliki pemain bintang yang mengenakan nomor tujuh, yaitu : Alexis Sanchez (Cile), Cristiano Ronaldo (Portugal), dan Boaz Solossa (Indonesia). Ronaldo dan Boaz juga menjadi kapten tim masing-masing, yang jelas memiliki kelebihan dibanding rekan-rekannya. Apakah kebetulan jika ketiga tim juga memiliki pemain nomor delapan yang berposisi gelandang dan sama-sama memelihara berewok? Lihat saja penampilan Arturo Vidal (Cile), Joao Moutinho (Portugal), dan Stefano Lilipaly (Indonesia). 

Piala AFF 2016 diikuti oleh tiga tim yang disponsori oleh Nike, yaitu : Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Biasanya, menjelang tampil di Piala AFF tahun-tahun sebelumnya, Nike merilis seragam anyar tim yang didukungnya. Namun, anehnya tahun ini Indonesia tidak diberi kostum baru sebagaimana Malaysia dan Singapura. Konon, yang menjadi alasan adalah absennya Indonesia di ajang internasional akibat sanksi FIFA selama sekitar setahun, yang membuat Boaz Solossa dkk memakai kostum yang sama dengan saat mengikuti Piala AFF 2014. Ternyata kostum lawas malah membawa keberuntungan bagi Indonesia yang sukses melaju hingga partai puncak, sementara Malaysia dan Singapura justru terhenti langkahnya di penyisihan grup belaka. Barangkali Indonesia bisa pula mengikuti jejak Arsenal yang menjuarai Piala FA 2013/14 dengan kostum yang sama dengan musim 2012/13. Padahal lazimnya setiap musim klub-klub Eropa selalu mengganti desain kostumnya, tapi tidak dengan The Gunners kala itu karena musim 2013/14 adalah tahun terakhir kerja sama Arsenal dan Nike, sebelum mereka disponsori Puma sejak 2014/15.

Fakta sejarah Piala AFF mencatat Vietnam (2008) dan Malaysia (2010) pernah menjadi juara Piala AFF dengan menundukkan tim yang mengalahkannya di pertandingan pertama turnamen. Vietnam kalah 0-2 dari Thailand di laga pembuka Grup B dan berbalik menang agregat 3-2 (2-1 dan 1-1) di final Piala AFF 2008. Sementara itu, Malaysia dilibas Indonesia 1-5 di awal penyisihan Grup A dan unggul agregat 4-2 (3-0 dan 2-1) di final Piala AFF 2010. Mudah-mudahan Indonesia bisa mengulangi sejarah Vietnam dan Malaysia, sekaligus membuat Thailand kembali menelan pil pahit seperti tahun 2008 dan menyembuhkan luka Indonesia di tahun 2010. Boaz Solossa dkk kalah 2-4 dari Teerasil Dangda dkk pada laga pertama Piala AFF 2016. Semoga tim Merah-Putih akhirnya mendapatkan Piala AFF pertamanya tahun ini agar membawa kesejukan dan kegembiraan bersama bagi seluruh bangsa Indonesia, yang akhir-akhir ini seperti terlalu sibuk berselisih paham dalam masalah apa saja.