Tampilkan postingan dengan label evan dimas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label evan dimas. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Desember 2021

Indonesia Kandaskan Laos 5-1

Indonesia menang 5-1 atas Laos dalam pertandingan kedua Grup B Piala AFF 2020 yang dimainkan Minggu (12/12/21) di Singapura. Kelima gol dibuat oleh lima pemain yang berbeda, yaitu Asnawi Mangkualam, Irfan Jaya, Witan Sulaeman, Ezra Walian, dan Evan Dimas. Witan dan Ezra mencetak gol sebagai pemain pengganti yang turun di  babak kedua.

Shin Tae-yong membuat sejumlah perubahan dalam sebelas awal. Ernando Ari, Rizky Ridho, Edo Febriansyah, KH Yudo, dan Dedik Setiawan kali ini menjadi pemain inti. Indonesia unggul 2-1 pada babak pertama. Tiga gol yang tercipta di babak kedua membuat anak asuh STY akhirnya menang 5-1. Irfan Jaya terpilih sebagai pemain terbaik dengan satu gol dan satu assist yang dibuatnya.


Materi Timnas Indonesia vs Laos (12/12/21) :

1.Ernando Ari; 14.Asnawi Mangkualam, 5.Rizky Ridho (19.Fachruddin Aryanto), 28.Alfeandra Dewangga, 3.Edo Febriansyah; 13.Rachmat Irianto (30.Elkan Baggot); 9.KH Yudo (8.Witan Sulaeman), 6.Evan Dimas (k), 15.Ricky Kambuaya, 25.Irfan Jaya (20.Ramai Rumakiek); 27.Dedik Setiawan (7.Ezra Walian).

Jumat, 08 Oktober 2021

Kemenangan Pertama Shin Tae-yong

Shin Tae-yong (STY) meraih kemenangan pertamanya bersama timnas Indonesia ketika anak asuhnya mengalahkan China Taipei/Taiwan 2-1 dalam pertemuan pertama play-off menuju Kualifikasi Piala Asia 2023. Pertandingan tersebut berlangsung di Stadion Buriram Thailand pada Kamis (7/10/21) malam. STY secara mengejutkan memainkan tiga pemain debutan dalam sebelas awal, yaitu Miftah Sani (bek kiri), Ricky Kambuaya (gelandang), dan Ramai Rumakiek (penyerang sayap). Ketiganya bermain cukup apik. Ramai membuat gol pertama di menit ke-16 hasil umpan dari Miftah. Ricky bermain penuh semangat hingga mendapat kartu kuning. Sayang sekali, mereka bertiga mesti diganti karena cedera. Evan Dimas sang kapten membuat gol kedua di menit ke-48 memanfaatkan assist KH Yudo.

Muhammad Riyandi mendapat kepercayaan berdiri di bawah mistar gawang. Empat bek dihuni oleh Asnawi Mangkualam, Victor Igbonefo, Fachruddin Aryanto, dan Miftah Sani. Trio gelandang ditempati Rahmat Irianto, Evan Dimas, dan Ricky Kambuaya. Kushedya Hari Yudo sebagai ujung tombak ditemani Irfan Jaya dan Ramai Rumakiek. Egy Maulana Vikri, Pratama Arhan, Syahrian Abimanyu, Yabes Roni, dan Kadek Agung diturunkan sebagai pemain pengganti.

Tim Merah Putih bermain dalam formasi 4-3-3, tapi dalam praktiknya Asnawi dan Arhan sebagai bek sayap bisa bermain bebas di luar daerahnya. Mengawali pertandingan dengan canggung, lambat laun Evan Dimas dkk mampu bermain lebih tenang hingga akhirnya meraih kemenangan. Kedua tim akan bertemu lagi Senin (11/10) mendatang. Mestinya play-off antara Indonesia dan Taiwan berlangsung dalam sistem kandang-tandang, tapi situasi pandemi yang belum aman benar  di kedua negara membuat mereka dua kali bertemu di Thailand sebagai tempat netral. Semoga kemenangan bisa kembali diraih anak asuh STY pada pertemuan kedua nanti dengan penampilan yang lebih bagus lagi.


Materi Timnas Indonesia vs Taiwan (7/10/21) :

M. Riyandi; Asnawi Mangkualam, Victor Igbonefo, Fachruddin Aryanto, Miftah Sani (Pratama Arhan); Rahmat Irianto, Evan Dimas (k), Ricky Kambuaya (Kadek Agung); Irfan Jaya (Yabes Roni), KH Yudo, Ramai Rumakiek (Egy MV).


Jumat, 04 Juni 2021

Indonesia Tahan Imbang Thailand 2-2

Shin Tae-yong menjalani debutnya menangani timnas Indonesia dalam laga resmi bertajuk Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia menghadapi Thailand yang berakhir imbang dengan skor 2-2. Pertandingan tersebut dimainkan di Stadion Al Maktoum, Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) pada Jumat (3/6/21) malam waktu setempat. Tim Merah Putih tampil dengan mayoritas pemain muda yang belum pernah memperkuat timnas senior. Rata-rata usia pemain timnas adalah 22,8 tahun. Evan Dimas yang dipercaya sebagai kapten merupakan satu-satunya pemain yang tersisa dari tim besutan Simon McMenemy yang selalu menderita kekalahan dalam lima laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 sebelumnya pada tahun 2019. 

Tidak hanya tampil dengan pelatih baru dan sejumlah pemain baru, skuat Garuda juga bertanding dengan kostum anyar dari Mills, produsen apparel lokal. Evan Dimas dkk juga membawa semangat bermain yang baru dan jauh berbeda dengan tim terdahulu. Dua kali tertinggal dan dua kali pula anak asuh STY mampu menyamakan kedudukan. Kadek Agung dan Evan Dimas menjadi pencetak gol timnas.

Yang cukup menarik perhatian adalah formasi tim kali ini. Sebelumnya dalam sejumlah ujicoba yang dimainkan timnas U-19 dan timnas U-22, STY selalu menerapkan formasi 4-4-2. Namun, ketika menghadapi Thailand justru formasi 4-2-3-1 yang dimainkan. Kabarnya, dalam dua ujicoba terakhir menghadapi Afghanistan dan Oman, STY mencoba formasi 4-4-2 dan 4-2-3-1 pada anak asuhnya. Ternyata hasilnya adalah poin pertama dalam Kualifikasi Piala Dunia 2022. Yang juga layak dicatat adalah keberadaan sejumlah pemain timnas yang bermain di luar negeri. Mereka adalah Asnawi Mangkualam (Ansan Greeners - Korea Selatan), Syahrian Abimanyu (Newcastle Jets- Australia), Egy MV (Lechia Gdansk - Polandia), dan Witan Sulaeman (FK Radnik Surdulica - Serbia).

Yang jelas, cukup menyenangkan melihat aksi pertama tim besutan pelatih Korea Selatan dalam sebuah pertandingan resmi. Ada progres dalam proses yang dijalani para pemain kita. Semoga performa Evan Dimas dkk bisa terus meningkat ketika melawan Vietnam, UEA, dan menghadapi sejumlah turnamen lainnya di masa depan.

Materi pemain Indonesia vs Thailand :

1.Nadeo Argawinata; 14.Asnawi Mangkualam, 2.Arif Satria, 4.Rizky Ridho, 11.Pratama Arhan; 17.Syahrian Abimanyu (7.Genta Alparedo), 22. I Kadek Agung Widyana (13.Rachmat Irianto); 10.Egy Maulana Vikry (20.Osvaldo Haay), 6.Evan Dimas (k), 8. Witan Sulaeman (18.Adam Alis); 9. Kushedya Hari Yudo (15.Muhammad Rafli)

Senin, 05 Februari 2018

Debut Apik Evan dan Ilham di Liga Malaysia

Evan Dimas Darmono dan Ilham Udin Armaiyn mengawali kiprahnya bersama Selangor FA di Liga Malaysia 2018 dengan kemenangan. Selangor menang 2-0 atas tuan rumah Kuala Lumpur FA dalam laga perdan Liga Malaysia yang berlangsung Minggu (4/2/2018) Evan bermain penuh 90 menit, sedangkan Ilham diganti di menit ke-67 karena mengalami cedera. 

Bergabungnya Evan dan Ilham ke klub Malaysia sempat dipermasalahkan oleh Ketua Umum PSSI yang memperlihatkan dirinya kurang memahami seluk beluk persepakbolaan. Kedua pemain dengan kejamnya bahkan pernah dituduh tidak nasionalis oleh lelaki yang berniat jadi gubernur itu. Syukurlah bahwa Evan dan Ilham akhirnya jadi memulai pengalaman barunya sebagai pemain asing di negeri orang.

Beberapa pemain Indonesia lainnya tahun ini juga bermain di liga negeri jiran. Ferdinand Sinaga (Kelantan FA), Achmad Jufrianto (Kuala Lumpur FA), dan David Laly (Felcra FC) bermain di Liga Malaysia. Ryuji Utomo (PTT Rayong), Rudolof Yanto Basna (Khon Kaen FC), dan Terens Puhiri (Port FC) bermain di Liga Thailand. Klub yang diperkuat Ryuji dan Yanto berlaga di Thai League 2, sedangkan klub Terens di Thai League 1. Mudah-mudahan mereka mampu memberi warna tersendiri bagi klub barunya dan membawa perkembangan yang positif ketika mereka kembali bermain untuk timnas.

Selasa, 29 Agustus 2017

Evan Dimas dkk Raih Medali Perunggu

Evan Dimas dkk akhirnya memberikan hadiah hiburan berupa medali perunggu SEA Games 2017. Setelah takluk dari Malaysia 0-1 di semifinal yang berlangsung Sabtu (26/8), maka Indonesia berhasil menang 3-1 atas Myanmar dalam perebutan tempat ketiga yang dimainkan Selasa (29/8). Tim besutan Luis Milla lebih dulu tertinggal 0-1 di babak pertama, tapi mereka berhasil bangkit di paruh kedua pertandingan. Evan Dimas menyamakan kedudukan di menit ke-57, disusul gol Septian David Maulana (59'), dan diakhiri gol spektakuler Rezaldi Hehanusa (77') dari luar kotak penalti. Apa yang diraih Garuda Muda di SEA Games 2017 memperbaiki prestasi dua tahun silam ketika anak asuh Aji Santoso gagal dalam perebutan medali perunggu. Kendati gagal menjadi juara, tapi Luis Milla layak dipertahankan sebagai pelatih timnas. Dalam waktu sekitar enam bulan menangani para pemain Indonesia telah terlihat adanya kemajuan performa timnas hingga akhirnya Agustus tampil di SEA Games. Dengan materi pemain yang selalu dirotasi, nyatanya rekor Garuda Muda cukup apik menjalani tujuh pertandingan dengan hasil empat kali menang, dua kali seri, dan sekali kalah. Catatan golnya adalah memasukkan 10 buah dan kebobolan tiga gol. Masalah temperamen para pemain yang sempat menjadi masalah-karena berbuah akumulasi kartu kuning dan kartu merah-di penyisihan bisa diperbaiki ketika menjalani laga semifinal dan perebutan medali perunggu. Luis Milla mampu memilih para pemain dengan kualitas yang nyaris sama bagusnya, sehingga selalu ada pengganti yang memadai untuk pemain yang terpaksa absen karena skorsing maupun cedera. 
Evan Dimas dan Rezaldi Hehanusa menyumbang gol ke gawang Myanmar.
Tahun 2018 mendatang timnas U-22 akan menjelma sebagai timnas U-23 dan tampil di Asian Games 2018 yang berlangsung di Indonesia. Masih ada waktu setahun bagi Luis Milla untuk lebih mematangkan Evan Dimas dkk. PSSI mesti mendukung penuh program pelatih timnas agar performa Garuda Muda terus meningkat. Piala AFF 2018 juga akan menjadi turnamen resmi pertama Luis Milla jika sang arsitek tim masih tetap dipercaya oleh PSSI. Mereka yang tampil cemerlang di timnas U-22 tahun ini sebagian besar mungkin akan menjadi tulang punggung timnas senior. Siapa tahu, tahun depan keberuntungan akhirnya menyertai Tim Merah Putih dengan mampu menjadi juara di Asia Tenggara.
Septian David Maulana menjadi bintang timnas SEA Games 2017 dengan tiga gol dan dua assist-nya.
Pasca SEA Games 2017, terdapat sejumlah pemain yang masih bisa bermain di SEA Games 2019, seperti Andy Setyo, Asnawi Mangkualam, Hanif Sjahbandi, Osvaldo Haay, Saddil Ramdani, dan Marinus Wanewar. Mereka yang tidak masuk timnas SEA Games 2017 juga masih banyak yang berkualitas, seperti Bagas Adi Nugroho (cedera menjelang SEA Games sehingga terpaksa dicoret) dan Dimas Drajat, juga mereka yang kini berada di timnas U-19 asuhan Indra Sjafri, seperti Rahmat Irianto dan Egy Maulana Vikri. Keberadaan Liga 1 U-19 mulai tahun 2017 ini diharapkan melahirkan pemain-pemain muda yang terbiasa menjalani kompetisi secara rutin sejak tim junior. Mestinya semua klub yang mengikuti Liga Indonesia diwajibkan memiliki tim junior (minimal tim U-19), tidak hanya 18 tim peserta Liga 1. Semoga momentum bagus tahun ini bisa terus berlanjut di tahun-tahun selanjutnya, tidak seperti apa yang sudah menjadi sejarah pahit selama ini. PSSI harus bisa belajar dari masa lalu, lebih bekerja keras lagi, dan tetap sabar menanti proses yang memang harus dijalani dengan segala lelikuannya.
Kegembiraan Garuda Muda setelah meraih medali perunggu.

Kamis, 23 Maret 2017

Debut Luis Milla dan Pemain Muda Timnas Indonesia

Luis Milla Aspas menjalani debutnya sebagai pelatih timnas Indonesia pada Selasa lalu (21/3/2017) di Stadion Pakansari Bogor. Indonesia yang menurunkan tim U-22 kalah 1-3 dari Myanmar yang hadir dengan tim seniornya. Seluruh pemain yang dimainkan Milla sejak sepak mula merupakan pemain debutan dan mencatatkan caps pertamanya untuk Indonesia. Meski hanya ujicoba, tapi pertandingan Indonesia vs Myanmar dicatat oleh FIFA sebagai laga resmi dua tim senior. Bagas Adi Nugroho dipercaya sebagai kapten di babak pertama, sedangkan Evan Dimas menjadi kapten di 45 menit kedua. Evan merupakan satu-satunya pemain yang pernah memperkuat timnas senior yang dimainkan Milla sore itu. Hansamu Yama, yang sempat menjadi andalan Indonesia di Piala AFF 2016, hanya disimpan di bangku cadangan karena masih cedera dan tidak cukup bugar.

Para pemain muda Tim Merah-Putih sebenarnya sempat unggul lebih dulu di menit ke-22 melalui gol sundulan Ahmad Nur Hadianto yang memanfaatkan umpan dari Saddil Ramdani. Kedua pemain kebetulan sama-sama bermain di Persela. Myanmar menyamakan kedudukan di menit ke-34 dan di babak kedua mampu membalikkan keadaan sehingga mengecewakan pendukung tim tuan rumah. Selain Bagas, Nur Hardianto, dan Saddil, Febri Hariyadi dikabarkan bermain cukup menonjol ketimbang rekan-rekan lainnya. Gelandang sayap asal Persib tersebut berkali-kali membahayakan sektor kanan pertahanan Myanmar, meski belum tampil maksimal.

Satu hal yang juga layak dicatat, Milla memberi kesempatan kepada Ezra Walian berseragam Garuda di dada pertama kalinya. Ezra merupakan pemain berdarah Indonesia-Belanda yang baru beberapa jam sebelum pertandingan resmi menjadi WNI, setelah proses naturalisasi yang dijalaninya telah mendapat Surat Keputusan dari Presiden Jokowi. Striker klub Jong Ajax tersebut telah berpengalaman bermain di kompetisi junior Liga Belanda dan bahkan sempat memperkuat tim junior Belanda. Kehadirannya di timnas U-22 diharapkan menambah kekuatan di lini depan anak asuh Luis Milla.

Kekalahan di pertandingan pertama menjadi pelajaran berharga bagi Evan Dimas dkk untuk bekerja keras memperbaiki performa. April mendatang mereka akan menjalani latihan dan sejumlah laga ujicoba di Spanyol. Sehabis itu timnas U-22 dijadwalkan mengikuti Islamic Solidarity Games 2017 di Azerbaijan dan Kualifikasi Piala Asia U-23 2018 di Thailand. Masih cukup waktu bagi Milla membuat anak asuhnya tampil lebih baik dari waktu ke waktu dan tentu saja diharapkan mencapai masa puncaknya ketika bermain di SEA Games 2017 pada Agustus di Malaysia.

Susunan pemain Indonesia menghadapi Myanmar :
18-Diky Indriyana; 2-Putu Gede, 4-Ryuji Utomo, 5-Bagas Adi Nugroho, 12-Ricky Fajrin/11-Zalnando (53'); 8-Muhammad Hargianto/14-Asnawi Mangkualam (54'); 13-Febri Hariyadi, 16- Hanif Sjahbandi, 7-Gian Zola/6-Evan Dimas (46'), 24-Saddil Ramdani/25-Osvaldo Haay (71')i; 9- Ahmad Nur Hardianto/10-Ezra Walian (46')

Kamis, 06 Oktober 2016

Memori : Timnas Indonesia U-19 Pemuas Dahaga

Gelar juara sepak bola yang begitu lama dirindukan oleh rakyat Indonesia akhirnya tiba jua. Kerinduan itu telah mendapat jawaban nyata. Stadion Gelora Delta Sidoarjo pada Minggu malam, 22 September 2013, merupakan lokasi sekaligus saksi sejarah kesuksesan Tim Merah Putih menjadi juara Piala AFF U-19 2013, sesudah 22 tahun mengalami masa paceklik meraih trofi.
Indonesia secara dramatis mampu mengalahkan Vietnam melalui adu penalti dengan skor 7-6. Keberhasilan tim asuhan Indra Sjafri memiliki sejumlah makna tersendiri dalam perkembangan sepak bola nasional.

Mitos selalu kalah di laga final pada sejumlah turnamen resmi sejak SEA Games 1991 akhirnya pupus kini. Evan Dimas dkk sudah membuat catatan prestasi baru dalam riwayat persepakbolaan nasional. Indonesia akhirnya dapat meraih Piala AFF, meski baru pada tingkat junior. Selama kurun masa 22 tahun berlalu (1991-2013), sebenarnya timnas bisa beberapa kali tampil di pertandingan puncak, tapi senantiasa gagal menjadi kampiun.
Dalam empat tahun terakhir saja, Indonesia kandas di laga pamungkas Piala AFF 2010 (senior), SEA Games 2011 (U-23), dan Piala AFF U-16 2013. Ironisnya, dalam tiga kali kesempatan itu, tim kebanggaan kita selalu takluk dari Malaysia. Di Piala AFF U-19 2013 yang berlangsung di Jawa Timur (Sidoarjo dan Gresik), barulah Pasukan Garuda Muda mampu menghentikan langkah Malaysia sekaligus Thailand, yang kerap menggagalkan Indonesia pula di final pada masa silam, di babak penyisihan grup.

evan dimas dkk

Hanya berselang tiga pekan para pemain Tim Garuda Jaya –sebutan Indra Sjafri buat para pemainnya- kembali membuat bangga. Mereka lolos ke putaran final Piala Asia U-19 setelah menjadi juara Grup G.
Kemenangan 3-2 di laga penutup kualifikasi menghadapi juara bertahan turnamen, Korea Selatan, masuk buku sejarah. Keberhasilan timnas U-19 bukan merupakan suatu kebetulan, tapi mereka memang tim yang kuat.
Sebagian materi timnas U-19 ternyata telah bermain bersama di bawah pelatih Indra Sjafri sejak timnas U-16 beberapa tahun silam. Mereka bahkan pernah menjuarai sejumlah turnamen junior, seperti HKFA International Youth Football Invitation di Hongkong pada tahun 2012 dan 2013.

Mental Juara
Mental juara tampaknya memang mampu ditanamkan sang pelatih kepada anak-anak asuhannya. Timnas U-19 kemudian lebih berkonsentrasi menjalani pemusatan latihan selama sekitar dua bulan di Yogyakarta, termasuk menjalani uji coba dengan tim-tim lokal. Seluruh anggota tim bahkan tidak bisa pulang saat lebaran tempo hari dan mereka bersama-sama merayakan Idul Fitri di Yogyakarta. Sehabis itu mereka melanjutkan pelatnas di Jawa Timur, yang merupakan lokasi Piala AFF U-19 2013. Kerja keras dan pengorbanan mereka memang layak berbuah manis.
Ternyata tidak perlu menjalani pelatnas jangka panjang di luar negeri, seperti Italia atau Uruguay, untuk mendapatkan sebuah trofi demi mengharumkan nama tanah air tercinta. Mungkin yang lebih diperlukan adalah pelatih berkualitas yang jeli memilih pemain berkualitas dan proses pelatnas yang berkualitas pula.
Ravi Murdianto, Hansamu Yama Pranata, Evan Dimas, Ilham Udin Armaiyn, Maldini Pali, Muchlis Hadi, dan kawan-kawan kini telah menjadi idola baru pencinta sepak bola di berbagai penjuru negeri.

Mereka pantas mengemban harapan kita bahwa timnas bakal bisa berprestasi lebih apik di masa mendatang. Maka menjadi tugas PSSI agar tunas-tunas muda yang mulai bersemi itu tak menjadi layu sebelum berkembang di tengah jalan. Kita sebagai penonton setia timnas pastinya bakal mendukung dan mengawal apa pun langkah PSSI dalam proses pengembangan pemain muda yang lebih baik di semua wilayah Nusantara. Upaya maksimal yang baik kiranya akan membuahkan hasil yang bagus jua nantinya. Semoga.
Akhirnya, selamat untuk Evan Dimas dkk, semoga semakin panjang jejak prestasi kalian tapaki demi harumnya nama Indonesia di masa depan. Terima kasih karena telah membahagiakan dan membanggakan kami sebagai sebuah bangsa.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan Opini Publik Harian BOLA edisi Rabu, 16 Oktober 2013.

Sabtu, 30 Januari 2016

Memori : Tahun 2014 Penuh Harapan bagi Tim Merah-Putih



Tahun 2013 meninggalkan kesan positif bagi pencinta sepak bola Indonesia. Kekacauan yang terjadi akibat konflik internal PSSI telah berakhir melalui mekanisme KLB. PSSI kembali bersatu dan serius bekerja membenahi berbagai kekurangan yang ada. Hasilnya, terdapat beberapa hal yang menggembirakan kita. Evan Dimas dkk berhasil menjadi juara Piala AFF U-19 2013 yang berlangsung di Jawa Timur. Tim asuhan Indra Sjafri juga mampu lolos ke Piala Asia U-19 2014.

Timnas U-23 memang gagal memenangkan final SEA Games 2013 Myanmar, namun setidaknya medali perak dapat kembali diraih oleh Kurnia Meiga dkk. Dua tahun sebelumnya, tim besutan Rahmad Darmawan pun mendapatkan medali perak di Jakarta. Kita tahu, timnas sepak bola tidak pernah bisa menembus partai puncak SEA Games sejak tahun 1997. Baru pada tahun 2011 dan 2013 hal itu dapat diwujudkan lagi. Jadi ada perubahan positif lainnya dalam sejarah panjang persepakbolaan nasional.

Timnas senior gagal total di Kualifikasi Piala Asia 2015. Namun kita senang melihat para pemain terbaik Indonesia dapat kembali memperkuat Tim Merah-Putih. Jacksen F. Tiago sebenarnya sosok yang layak membawa timnas berprestasi mengingat kiprahnya selama ini, tapi PSSI telah menggantinya dengan pelatih baru. Harapan itu otomatis kita pindahkan ke pundak Alfred Riedl yang kembali ke kursi yang sempat didudukinya pada 2010-2011.

Tahun 2014 merupakan kesempatan bagi timnas Indonesia mengukir prestasi yang lebih baik. Tim asuhan Indra Sjafri akan berlaga di Piala Asia U-19 2014 Myanmar yang berlangsung pada 9-24 Oktober 2014. Target lolos ke semifinal agar mendapatkan tiket ke Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru cukup realistis dan bukan impian belaka. Persiapan panjang telah dilakukan sejak akhir 2013. Kondisi fisik dan mental yang ideal dari para pemain menjadi modal pelatih dalam meningkatkan kualitas teknik dan permainan tim. Program uji coba, mulai dari menghadapi tim lokal, tim Asia, hingga tur ke Eropa telah dirancang dan tinggal dijalani Evan Dimas dkk. Diharapkan pada Oktober nanti, Tim Garuda Jaya telah sampai pada fase puncaknya dan meraih prestasi terbaiknya.




Asian Games
Menpora Roy Suryo dan Ketua KOI Rita Subowo telah membuka peluang bagi PSSI agar mengirim timnas U-23 berlaga dalam Asian Games 2014 di Korea Selatan yang berlangsung pada 19 September-4 Oktober 2014. PSSI sendiri telah siap menjadi bagian dari kontingen Tim Merah-Putih meski dengan biaya sendiri. Pelatih baru harus segera ditunjuk PSSI, sehingga ia bisa selekasnya menyusun program persiapan menuju turnamen. Sudah saatnya Indonesia kembali mengukur diri menghadapi tim-tim dari berbagai penjuru Asia dan tidak cukup berkutat di wilayah Asia Tenggara belaka. Sebagian anggota timnas SEA Games 2013 masih bisa berlaga di Korea Selatan dan keikutsertaan timnas U-23 juga menjadi persiapan jangka panjang menghadapi SEA Games 2015. Para pemain seperti Alfin Tuasalamony, M.Syaifuddin, Manahati Lestusen, Rizky Pellu, Ferinando Pahabol, dan Yandi Sofyan masih memenuhi syarat bermain di SEA Games mendatang.


Timnas senior ditargetkan menjadi juara Piala AFF 2014 yang berlangsung pada 22 November-20 Desember 2014. PSSI pasti siap mendukung apa pun program kerja Alfred Riedl dan para asistennya. Laga menghadapi Arab Saudi pada awal Maret mendatang menjadi debut Alfred dalam periode kedua karier kepelatihannya bersama Tim Merah-Putih.

Berkaca pada apa yang terjadi di tahun 2013, maka tampil di final mesti dijadikan tradisi pada sejumlah turnamen yang bakal diikuti timnas, baik timnas junior maupun senior, setidaknya untuk turnamen Asia Tenggara lebih dahulu. Tak perlulah kita berlebihan membuat pernyataan bahwa menjadi juara adalah harga mati. Lebih baik kita tetap menapakkan kaki di bumi serta mengingat bahwa ada yang lebih berkuasa ketimbang manusia. Bagaimanapun pepatah lama masih terus berlaku. Tugas kita manusia berencana dan selalu berupaya melakukan yang terbaik, tapi bukankah tetap Tuhan yang menentukan hasil akhirnya?

*pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan Opini Publik Harian BOLA Selasa, 21 Januari 2014.