Senin, 20 November 2017

Kalahkan Milan, Napoli Teguh Pimpin Klasemen

Napoli kian menunjukkan kelayakannya untuk menjadi kandidat terkuat peraih scudetto Serie A 2017/18. Anak asuh Maurizio Sarri menaklukkan AC Milan pada laga giornata ke-13 yang berlangsung Minggu (19/11/2017). Dua gol Napoli dibuat oleh Lorenzo Insigne dan Piotr Zilienski, sedangkan gol Milan dicetak Alessio Romagnoli menjelang pertandingan berakhir. Napoli teguh menjadi capolista selama 13 pekan sejak giornata perdana Liga Italia musim ini. Il Partenopei sudah 11 kali menang, dua kali seri, dan belum pernah kalah, mengumpulkan poin 35, dan memiliki rekor gol 34-9. Internazionale mengikuti di peringkat kedua dengan poin 33 dan Juventus di bawahnya lagi dengan poin 31. Inter juga belum pernah kalah di Serie A, sedangkan Juve sudah dua kali kalah. Semoga Napoli mampu terus mempertahankan posisinya hingga akhir musim untuk mengakhiri dominasi Gianluigi Buffon dkk yang telah membuat Liga Italia kian membosankan dalam beberapa musim terakhir.

Kekalahan dari Napoli menjadi yang keenam kalinya bagi anak asuh Vincenzo Montella di liga lokal musim ini. I Rossoneri enam kali menang, sekali seri, dan enam kali kalah dalam 13 pekan yang telah dilalui. Semua kekalahan dialami Milan ketika menghadapi enam tim papan atas, yaitu Napoli, Inter, Juventus, AS Roma, Lazio, dan Sampdoria. Hal itu menunjukkan bahwa Gianluigi Donnarumma dkk belum memiliki kapasitas yang memadai untuk bersaing di posisi elit Serie A. Menjadi layak dipertanyakan, apakah pembelian pemain baru secara jor-joran memang sesuai dengan kebutuhan tim atau sekadar memenuhi nafsu pemilik baru senyampang lagi punya duit banyak? Melihat materi tim yang dimainkan Montella dari pekan ke pekan, biasanya ada 5-6 pemain musim lalu yang kerap menjadi pilihan utama. Mungkin sebenarnya Milan hanya perlu 7-8 pemain untuk memperkuat tim inti maupun tim pelapis, tidak perlu sampai merekrut lebih dari 10 pemain anyar yang justru membuat proses adaptasi berjalan lama.

Minggu, 19 November 2017

Momentum Kembalinya Pogba dan Ibra

Kemenangan Manchester United atas Newcastle United 4-1 pada laga pekan ke-12 Premier League 2017/18 yang berlangsung Sabtu (18/11/207) sekaligus menjadi momentum kembalinya Paul Pogba dan Zlatan Ibrahimovic ke lapangan hijau. Selain itu, Romelu Lukaku akhirnya berhasil membuat gol lagi setelah dalam beberapa pertandingan mandul. Hal itu tentu saja menjadi kabar gembira bagi penggemar MU di seluruh dunia. Tim besutan Jose Mourinho mampu bangkit setelah pada pertandingan terakhir di Liga Inggris -sebelum jeda internasional pekan lalu- menelan kekalahan dari Chelsea.

Pogba bahkan langsung bermain cemerlang dengan menyumbang satu gol dan satu assist. Gawang David de Gea sebenarnya lebih dulu kebobolan oleh Dwight Gayle pada menit ke-14, tapi Antonio Valencia dkk mampu bangkit membalikkan keadaan. Gol tercipta lewat Anthony Martial (37'), Chris Smalling (45'+1), Pogba (54'), dan Lukaku (70'). Pogba lebih dulu memberikan umpan manis yang berbuah gol pertama Martial, lantas dia sendiri membobol gawang anak asuh Rafael Benitez di awal babak kedua. Gelandang asal Prancis itu akhirnya terpilih sebagai pemain terbaik dalam laga Manchester United vs Newcastle United.

Zlatan Ibrahimovic turun menggantikan Anthony Martial di menit ke-77. Itulah penampilan pertama Ibra musim ini dengan mengenakan kostum nomor 10 setelah pulih dari cedera yang menderanya April lalu. Mourinho memberi kesempatan Ibra bermain bersama Lukaku dan Rashford sekaligus. Striker berusia 36 tahun itu semula diperkirakan baru bisa bermain lagi pada Januari 2018, tapi ternyata dia sanggup kembali dua bulan lebih awal dari prediksi. Meskipun belum membuat gol maupun assist, namun sudah ada aksi Ibra yang memukau, seperti ketika dia menendang bola secara salto di depan gawang Rob Elliot. Kemenangan pada pekan ke-12 membuat posisi MU tetap berada di nomor dua di bawah Manchester City yang kini unggul delapan poin. Kompetisi musim ini masih panjang, perebutan gelar juara Premier League 2017/18 masih terbuka lebar, termasuk bagi Red Devils.

Sabtu, 18 November 2017

Kemenangan Kedua Suriah di Cikarang

Stadion Wibawa Mukti Cikarang ternyata menjadi tempat yang menyenangkan bagi Suriah U-23. Setelah membuat Indonesia U-23 bertekuk lutut 2-3 pada Kamis lalu (16/11/2017), maka giliran timnas senior Garuda yang dibuat takluk 0-1 pada Sabtu (18/11) di tempat yang sama. Tendangan melengkung Mohammed Anez yang tak terjangkau oleh tangan Andritany Ardhiyasa tercipta di menit ke-84. Luis Milla memainkan delapan pemain seniornya sejak awal pertandingan, termasuk Ilija Spasojevic yang menjalani debutnya mengenakan kostum merah putih dengan Garuda Pancasila di dada. 

Laga timnas selanjutnya adalah menghadapi Guyana di Stadion Patriot Candrabagha pada Sabtu (25/11). Perpindahan tempat pertandingan adalah untuk memudahkan akses bagi para penonton, selain kondisi lapangan Stadion Wibawa Mukti juga tidak terlalu baik saat kehujanan. Padahal dua laga kali laga Indonesia vs Suriah berlangsung di bawah guyuran hujan lebat. Laga Indonesia vs Guyana yang berperingkat sama itu (165) berlabel "FIFA A Match", berbeda dengan Indonesia vs Suriah U-23 yang merupakan ujicoba informal - yang tidak dicatat oleh FIFA. Luis Milla memulangkan tujuh pemain senior dan hanya menyisakan Spaso yang akan ditemani oleh rekan-rekan mudanya anggota timnas U-23. Milla memuji keberadaan Spaso yang memiliki sikap dan kemampuan yang baik, serta bisa menjadi teladan bagi para pemain muda Indonesia. Spaso ternyata juga mampu berbahasa Spanyol, sehingga memudahkan komunikasinya dengan sang pelatih. Namun, striker Bhayangkara FC itu tentu masih perlu beradaptasi dengan anak asuh Milla. 

Rangkaian laga ujicoba di bulan November 2017 merupakan bagian dari proses panjang pembentukan timnas U-23 yang akan bermain di Asian Games 2018 di Indonesia. Tiga pemain senior diizinkan bergabung untuk memperkuat amunisi para pemain muda. Spaso tampaknya bisa menjadi salah satu pilihan terbaik bagi Milla. 

Materi pemain Indonesia vs Suriah U-23 :
26-Andritany Ardhiyasa; 12-Gavin Kwan, 13-A.Jufriyanto, 16-Fachrudin, 17-Ricky Fajrin; 8-M.Taufiq (14.M.Arfan 80'), 19-Bayu Pradana (18-M.Hargianto 58'); 21-Andik Vermansah (25-Osvaldo Haay 58'); 7-Boaz Solossa (k), 31-Febri Hariyadi; 9-Ilija Spasojevic (29-Septian David 73')


Jumat, 17 November 2017

Indonesia U-23 Takluk dari Suriah U-23

Indonesia U-23 mesti mengakui keunggulan Suriah U-23 dan kalah 2-3 dalam laga ujicoba yang berlangsung Kamis (16/11/2017) di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Bekasi. Gol Garuda Muda dicetak oleh Septian David (35') dan Osvaldo Haay (45'). Kedua gol merupakan assist dari Febri Hariyadi. Luis Milla memainkan mayoritas pemain yang menjadi andalannya di SEA Games 2017 sebagai sebelas awal. Satria Tama sebagai kiper. Kuartet bek diisi Putu Gede, Hansamu Yama, Ricky Fajrin, dan Rezaldi Hehanusa. Dua gelandang bertahan ditempati Evan Dimas dan Hargianto. Trio gelandang serang mengandalkan Febri Hariyadi, Septian David, dan Osvaldo Haay. Striker utama dilakoni oleh Ilham Udin yang baru dipanggil selepas SEA Games. Rezaldi digantikan oleh Bagas Adi di menit ke-33 karena cedera. Di babak kedua Milla menurunkan empat pemain pengganti, yaitu Saddil Ramdani, M. Arfan, Egy Maulana Vikri, dan Miftahul Hamdi. Arfan dan Egy menjalani debutnya bersama timnas U-23.

Indra Sjafri Dipecat?
Sementara itu, ada kabar bahwa Indra Sjafri bakal segera dipecat sebagai pelatih timnas U-19. Kekalahan 0-4 dari Korsel dan 1-4 dari Malaysia dalam Kualifikasi Piala Asia U-19 2018 di Korsel dianggap sebagai kegagalan oleh PSSI. Bahkan dengan kasarnya si ketua umum mengatakan bahwa nasib Indra Sjafri sudah ada di ujung kaki alias tinggal ditendang saja. Wow, begitu tidak bijaksananya kata-kata itu keluar dari seorang pemimpin yang mestinya bisa menjadi teladan bagi seluruh pelaku sepak bola di tanah air. Apalagi dia mengomentari sosok pelatih yang sudah berjasa besar pada sepak bola nasional. Indonesia sendiri sudah dipastikan tampil di Piala Asia U-19 2018 karena bertindak sebagai tuan rumah. Secara umum penampilan Egy Maulana Vikri dkk cukup bagus, perombakan pemain pun masih mungkin dilakukan, artinya masih ada waktu untuk memperbaiki performa tim. Setelah generasi Evan Dimas dkk, Indra kembali mampu menemukan bakat-bakat muda yang bakal menjadi andalan Tim Merah Putih di masa depan. 

Jadi, apakah sebenarnya alasan PSSI menghentikan tugas Indra Sjafri dengan begitu saja? Kegagalan menjuarai Piala AFF U-18 2017 (akhirnya meraih medali perunggu) konon menjadi alasan kegagalan lainnya. Lantas, apakah ada bedanya dengan Luis Milla yang juga tidak berhasil lolos ke Piala Asia U-23 2018 dan hanya meraih medali perunggu SEA Games 2017? Kenapa tidak ada rencana memecat Milla sekalian? Ketika kompetisi pemain usia muda belum digelar secara rutin, Liga 1 U-19 yang dijuarai Persipura baru dimulai tahun ini, lantas menuntut timnas U-19 kudu juara sebenarnya adalah hal yang lucu. Memang dahulu pernah ada timnas junior menjuarai Piala AFF U-19 pada 2013, tapi hal itu adalah sebuah anomali belaka. Keajaiban yang sebenarnya sulit dipercaya. Namun, hal itu bisa terjadi -tentu dengan izin Ilahi- karena perjuangan Indra Sjafri dan timnya yang luar biasa, meski situasi dan kondisi saat itu sebenarnya tidak mendukung sepenuhnya. Lagi pula timnas U-19 di mana pun sebenarnya adalah bagian dari proses panjang bagi para pemain muda untuk menjadi pemain yang berkualitas di tingkat senior. Sungguh tidak adil selalu membebani target juara kepada para pemain usia muda.

Melihat komposisi timnas U-23 ketika menjamu Suriah, terdapat setidaknya enam pemain yang pernah menjadi anak asuh Indra Sjafri di timnas U-19 dipercaya tampil di tim inti. Mereka adalah Putu Gede, Hansamu, Ricky, Evan, Hargianto, dan Ilham Udin. Hamdi juga pernah menjadi rekan Evan Dimas, sementara Saddil dan Egy masih menjadi anggota timnas U-19 yang diasuh Indra Sjafri hingga saat ini. Si ketua umum dan mereka di PSSI yang begitu bernafsu memecat Indra tampaknya tidak mampu melihat hal positif itu.  


Rabu, 15 November 2017

Gagalnya Italia dan Akhir Generasi Buffon


Italia dipastikan gagal lolos ke Piala Dunia 2018 Rusia setelah hanya mampu bermain imbang 0-0 melawan Swedia di San Siro, Milan pada Senin (13/11/2017) waktu setempat. Gli Azzuri lebih dulu kalah 0-1 dalam laga pertama play-off, sehingga tim Skandinavia itulah yang berhak melaju ke Rusia tahun depan. Kegagalan Italia bermain di Piala Dunia adalah yang pertama kali sejak tahun 1958 ketika turnamen sepak bola terakbar di muka bumi dilangsungkan di Swedia. Tidak berhasilnya tim besutan Gian Piero Ventura melewati babak play-off membuat Gianluigi Buffon memutuskan mundur dari timnas Italia. Langkah Buffon diikuti oleh tiga pemain senior lainnya, yaitu Giorgio Chiellini, Andrea Barzagli, dan Danielle De Rossi. Mereka berempat adalah yang tersisa dari skuat Italia ketika menjadi juara Piala Dunia 2006. Hasil buruk di Kualifikasi Piala Dunia 2018 menjadi momentum berakhirnya kiprah generasi Buffon dkk bersama Gli Azzuri. Barangkali sudah saatnya bagi Gianluigi Donnarumma, Alessio Romagnoli, dan pemain-pemain muda lainnya menjadi andalan Italia sehabis gagal ke Rusia. Namun, masih menjadi teka-teki apakah FIGC (PSSI-nya Italia) akan tetap mempertahankan Ventura atau memilih nama baru untuk menangani Gli Azzuri. Yang jelas masih ada nama seperti Carlo Ancelotti dan sejumlah pelatih top negeri pizza lainnya yang bisa jadi lebih layak menjadi pelatih Italia. 

Presenter Sport : Dita Fakhrana









Presenter Sport : Intan Saumadina