Kamis, 06 Oktober 2016

Memori : Timnas Indonesia U-19 Pemuas Dahaga

Gelar juara sepak bola yang begitu lama dirindukan oleh rakyat Indonesia akhirnya tiba jua. Kerinduan itu telah mendapat jawaban nyata. Stadion Gelora Delta Sidoarjo pada Minggu malam, 22 September 2013, merupakan lokasi sekaligus saksi sejarah kesuksesan Tim Merah Putih menjadi juara Piala AFF U-19 2013, sesudah 22 tahun mengalami masa paceklik meraih trofi.
Indonesia secara dramatis mampu mengalahkan Vietnam melalui adu penalti dengan skor 7-6. Keberhasilan tim asuhan Indra Sjafri memiliki sejumlah makna tersendiri dalam perkembangan sepak bola nasional.

Mitos selalu kalah di laga final pada sejumlah turnamen resmi sejak SEA Games 1991 akhirnya pupus kini. Evan Dimas dkk sudah membuat catatan prestasi baru dalam riwayat persepakbolaan nasional. Indonesia akhirnya dapat meraih Piala AFF, meski baru pada tingkat junior. Selama kurun masa 22 tahun berlalu (1991-2013), sebenarnya timnas bisa beberapa kali tampil di pertandingan puncak, tapi senantiasa gagal menjadi kampiun.
Dalam empat tahun terakhir saja, Indonesia kandas di laga pamungkas Piala AFF 2010 (senior), SEA Games 2011 (U-23), dan Piala AFF U-16 2013. Ironisnya, dalam tiga kali kesempatan itu, tim kebanggaan kita selalu takluk dari Malaysia. Di Piala AFF U-19 2013 yang berlangsung di Jawa Timur (Sidoarjo dan Gresik), barulah Pasukan Garuda Muda mampu menghentikan langkah Malaysia sekaligus Thailand, yang kerap menggagalkan Indonesia pula di final pada masa silam, di babak penyisihan grup.

evan dimas dkk

Hanya berselang tiga pekan para pemain Tim Garuda Jaya –sebutan Indra Sjafri buat para pemainnya- kembali membuat bangga. Mereka lolos ke putaran final Piala Asia U-19 setelah menjadi juara Grup G.
Kemenangan 3-2 di laga penutup kualifikasi menghadapi juara bertahan turnamen, Korea Selatan, masuk buku sejarah. Keberhasilan timnas U-19 bukan merupakan suatu kebetulan, tapi mereka memang tim yang kuat.
Sebagian materi timnas U-19 ternyata telah bermain bersama di bawah pelatih Indra Sjafri sejak timnas U-16 beberapa tahun silam. Mereka bahkan pernah menjuarai sejumlah turnamen junior, seperti HKFA International Youth Football Invitation di Hongkong pada tahun 2012 dan 2013.

Mental Juara
Mental juara tampaknya memang mampu ditanamkan sang pelatih kepada anak-anak asuhannya. Timnas U-19 kemudian lebih berkonsentrasi menjalani pemusatan latihan selama sekitar dua bulan di Yogyakarta, termasuk menjalani uji coba dengan tim-tim lokal. Seluruh anggota tim bahkan tidak bisa pulang saat lebaran tempo hari dan mereka bersama-sama merayakan Idul Fitri di Yogyakarta. Sehabis itu mereka melanjutkan pelatnas di Jawa Timur, yang merupakan lokasi Piala AFF U-19 2013. Kerja keras dan pengorbanan mereka memang layak berbuah manis.
Ternyata tidak perlu menjalani pelatnas jangka panjang di luar negeri, seperti Italia atau Uruguay, untuk mendapatkan sebuah trofi demi mengharumkan nama tanah air tercinta. Mungkin yang lebih diperlukan adalah pelatih berkualitas yang jeli memilih pemain berkualitas dan proses pelatnas yang berkualitas pula.
Ravi Murdianto, Hansamu Yama Pranata, Evan Dimas, Ilham Udin Armaiyn, Maldini Pali, Muchlis Hadi, dan kawan-kawan kini telah menjadi idola baru pencinta sepak bola di berbagai penjuru negeri.

Mereka pantas mengemban harapan kita bahwa timnas bakal bisa berprestasi lebih apik di masa mendatang. Maka menjadi tugas PSSI agar tunas-tunas muda yang mulai bersemi itu tak menjadi layu sebelum berkembang di tengah jalan. Kita sebagai penonton setia timnas pastinya bakal mendukung dan mengawal apa pun langkah PSSI dalam proses pengembangan pemain muda yang lebih baik di semua wilayah Nusantara. Upaya maksimal yang baik kiranya akan membuahkan hasil yang bagus jua nantinya. Semoga.
Akhirnya, selamat untuk Evan Dimas dkk, semoga semakin panjang jejak prestasi kalian tapaki demi harumnya nama Indonesia di masa depan. Terima kasih karena telah membahagiakan dan membanggakan kami sebagai sebuah bangsa.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan Opini Publik Harian BOLA edisi Rabu, 16 Oktober 2013.

Selasa, 04 Oktober 2016

Milan Sumbang Lima Pemain ke Timnas Italia

AC Milan dengan susah payah akhirnya berhasil mengalahkan Sassuolo 4-3 pada laga ke-7 Liga Italia Serie A 2016/17 yang berlangsung Minggu kemarin (2/10) di San Siro. Dalam beberapa tahun terakhir Neroverdi menjadi tim yang sangat susah ditaklukkan oleh Rossoneri. Bahkan pada musim 2015/16 lalu, tim yang promosi ke Serie A pada 2013/14 itu menempati posisi di atas Milan di klasemen akhir dan berhak mewakili Italia di Liga Europa musim ini.  Giacomo Bonaventura membawa tim tuan rumah unggul 1-0 di menit ke-6, namun tim tamu lantas membuat tiga gol yang membuat publik San Siro sempat berdebar-debar hingga pertengahan babak kedua. Vincenzo Montella melakukan perubahan yang efektif dengan menurunkan M'baye Niang dan Manuel Locatelli sebagai pengganti Luiz Adriano dan Riccardo Montolivo. Pelanggaran bek Sassuolo terhadap Niang diganjar wasit dengan tendangan penalti. Gol Carlos Bacca lewat titik putih (69'), disusul gol jarak jauh Locatelli (79') dan gol sundulan Gabriel Paletta akhirnya membuat Tim Merah-Hitam meraih tiga angka di kandang sendiri. Bacca untuk sementara menjadi pemain terproduktif di Serie A bersama Gonzalo Higuain (Juventus) dan Mauro Icardi (Internazionale) dengan koleksi enam gol. Locatelli mencatatkan gol pertamanya untuk Milan dan membuatnya menangis terharu sehabis mencetak gol
Locatelli mendapat apresiasi dari Donnarumma dan De Sciglio setelah mencetak gol.
AC Milan berada di nomor enam dalam klasemen sementara Serie A dengan poin 13. Namun sebenarnya AS Roma, Lazio, dan Chievo pun mengumpulkan poin yang sama dengan Rossoneri. Keempat tim bahkan mencatat rekor yang sama, yaitu empat kali menang, sekali seri, dan dua kali kalah dari tujuh pertandingan. Milan hanya kalah dalam selisih gol. Sementara itu Juventus (18) dan Napoli (14) menduduki peringkat pertama dan kedua hingga pekan ke-7 kasta tertinggi Liga Italia 2016/17.

Kendati masih berada di luar zona Champion, Milan menjadi klub penyumbang pemain terbanyak untuk timnas Italia. Gianluigi Donnarumma, Alessio Romagnoli, Mattia De Sciglio, Giacomo Bonaventura, dan Riccardo Montolivo termasuk dalam daftar pemain yang dipanggil Giampiero Ventura untuk menghadapi Spanyol (6/10) dan Macedonia (9/10) dalam Kualifikasi Piala Dunia 2018 mendatang.
Montolivo dan Bonaventura dalam latihan bersama timnas Italia.

Kejutan Mewarnai Pekan Ketujuh Liga Inggris dan Spanyol

Sejumlah hasil mengejutkan mewarnai pekan ketujuh Liga Inggris dan Spanyol  musim 2016/17 yang berlangsung awal Oktober 2016. Manchester City mengalami kekalahan pertamanya musim ini. Tottenham Hotspur menang 2-0 dan memutus rekor tim asuhan Pep Guardiola yang selalu menang dalam enam laga awal Liga Premier 2016/17. Gol bunuh diri Aleksander Kolarov dan gol Delle Ali membuat Claudio Bravo dua kali memungut bola dari gawangnya dalam pertandingan yang berlangsung di White Hart Lane pada Sabtu lalu (1/10). Kendati demikian, The Citizens masih tetap memimpin klasemen dengan unggul satu angka di atas Spurs, tim yang baru mengalahkannya. 
Aksi Anthony Martial membobol gawan Stoke City.
Kejutan lain di Inggris terjadi kala Manchester United ditahan imbang Stoke City di Old Trafford pada Minggu kemarin (2/10). Anthony Martial yang turun menggantikan Jesse Lingard membuat tuan rumah unggul 1-0, tapi Joe Allen bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1 menjelang pertandingan berakhir. United yang merupakan salah satu kandidat juara ternyata gagal menang dari tim penghuni dasar klasemen. Hasil tersebut membuat posisi Red Devils berada di nomor enam di bawah City, Spurs, Arsenal, Liverpool, dan Everton. Sehabis jeda internasional, tim besutan Jose Mourinho akan bertandang ke Anfield pada 15 Oktober 2016. Perjumpaan Liverpool dan United selalu menjadi pertandingan klasik di Liga Inggris.

Sementara itu di Liga Spanyol, Barcelona mengalami kekalahan keduanya dan Real Madrid menjalani hasil seri ketiganya musim ini. Celta Vigo menundukkan juara bertahan La Liga dengan skor 4-3. Bermain tanpa sejumlah pemain intinya, seperti Javier Mascherano, Andres Iniesta, dan Lionel Messi, anak asuh Luis Enrique bahkan tertinggal 0-3 di babak pertama. Masuknya Iniesta di babak kedua tidak cukup membalikkan keadaan, meski Gerard Pique (2) dan Neymar (1) mampu mencetak gol. Blaugrana harus puas berada di nomor empat di bawah Atletico Madrid, Real Madrid, dan Sevilla.
Ekpresi kekecewaan Ronaldo dan Bale tampak jelas setelah laga berakhir seri.
Real Madrid hanya bisa bermain imbang 1-1 dengan Eibar di Santiago Bernabeu pada Minggu silam (2/10). Sejumlah pemain andalan Los Blancos mesti absen, di antaranya Sergio Ramos, Marcelo, Casemiro, dan Luka Modric. Tim yang dilatih Zinedine Zidane lebih dulu tertinggal 0-1, sebelum akhirnya Gareth Bale menyamakan kedudukan dan menjadi golnya yang ke-50 di La Liga. Untuk ketiga kalinya El Real meraih hasil seri secara beruntun di La Liga, bahkan menjadi empat kali imbang jika ditambah hasil di Liga Champion pertengahan pekan lalu. Zidane harus bekerja keras membuat anak asuhnya kembali ke jalur kemenangan. Cederanya sejumlah pemain inti memang menjadi kendala tersendiri. Hal itu masih ditambah belum kembalinya performa terbaik Trio BBC di sektor depan, yang sempat absen karena masalah fisik. Karim Benzema bahkan sepertinya harus menepi lagi lantaran cedera saat Madrid vs Eibar. Jeda internasional menjadi masa pemulihan yang tepat bagi para pemain Los Merengues yang tidak fit. Tentu Zidane pun berharap pemain-pemain yang dipanggil tim nasional masing-masing tidak pulang ke Madrid membawa cedera.

Minggu, 02 Oktober 2016

Betapa Beda Kostum Manchester City dan Zorya Luhansk

Sejumlah kejutan mewarnai pertandingan kedua penyisihan grup Liga Champion 2016/17 yang berlangsung pada tengah pekan terakhir September 2016. Bayern Muenchen takluk 0-1 dari Atletico Madrid, sementara Borussia Dortmund menahan imbang Real Madrid 2-2. Leicester City mengalahkan FC Porto 1-0 dan menjadi salah satu tim yang selalu meraih kemenangan dalam dua laga awal Liga Champion. Barcelona, Atletico Madrid, dan Napoli juga belum kehilangan poin di Eropa, sebagaimana juara Liga Premier Inggris musim lalu. Satu kejutan lagi adalah keberhasilan Glasgow Celtic bermain seri 3-3 dengan Manchester City, sementara tim besutan Pep Guardiola sedang begitu perkasa dengan 10 kemenangan beruntun di semua ajang musim ini. City pun memimpin klasemen Liga Premier dengan enam kemenangan tanpa sekali pun kehilangan poin. 

Namun klub asal Manchester itu menghadirkan kejutan lain berupa kostum seri ketiganya yang begitu mencolok mata. Perpaduan warna jingga dan ungu menjadi sensasi tersendiri dan mengundang banyak komentar dari para pengguna twitter di Eropa. Kebanyakan orang heran dan mencercanya, hampir sama dengan perlakukan orang Indonesia merespons seragam tim olimpiade Indonesia, yang ternyata mendapat pujian dari dunia ketika ditampilkan di Olimpiade Brasil 2016 sekian bulan silam. 
Kostum ketiga Manchester City ini keren atau norak?
Sejak Euro 2016 lalu, perusahaan apparel asal Amerika Serikat yang kondang itu seperti kekurangan ide untuk merancang desain kostum produksinya. Misalnya Portugal, Prancis, dan Inggris yang kostumnya sama persis motifnya, sebatas berbeda warnanya. Ironisnya, pada musim 2016/17 Manchester City memiliki kostum utama yang kembaran dengan ketiga tim nasional itu. Tiada beda pula dengan kostum kedua Paris SG. Mayoritas suporter pun kecewa menyambutnya. Jadi melihat penampilan tim kesayangannya dengan kostum jingga ungu nan kinclong, sudah selayaknya para penggemar klub itu tersenyum bersukacita. Keberanian tim desainer Nike patut dipuji dalam hal ini.

Bagaimana dengan kostum yang dikenakan oleh Zorya Luhansk, tim Ukraiana yang kalah tipis dari Manchester United di Liga Europa? Barangkali sempat terlintas kesan, kita bagaikan melihat Zlatan Ibrahimovic dkk sedang bertanding melawan tim yang terdiri dari para wasit. Kostum Zorya yang berwarna serba-hitam, tanpa nama sponsor di dada, dan tanpa garis warna yang lain jua, mirip sekali dengan kostum wasit zaman dulu. Sangat monoton dan tidak menarik sama sekali.     
Apakah Manchester United bermain menghadapi tim wasit?