Tampilkan postingan dengan label kroasia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kroasia. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Oktober 2020

Indonesia U-19 Menang 4-1

Indonesia U-19 menang 4-1 atas Makedonia Utara U-19 dalam lanjutan pertandingan ujicoba di Kroasia yang dimainkan Minggu (11/10/20) kemarin. Jack Brown yang masuk menggantikan Braif Fatari mencetak dua gol di babak kedua. Pemain Indonesia keturunan Inggris itu baru dua kali dimainkan selama berlatih di Kroasia. Witan Sulaeman membuka kemenangan timnya di babak pertama hasil kerja sama apik dengan Saddam Gaffar dan Braif Fatari. Makedonia Utara sempat menyamakan kedudukan di awal babak kedua. Jack Brown lantas dua kali membobol gawang lawan dan Irfan Jauhari membuat gol keempat Tim Merah Putih. Shin Tae-yong untuk pertama kalinya memberi kesempatan kepada Elkan Baggot bermain untuk timnas U-19. Elkan adalah bek berdarah Indonesia-Inggris yang bermain di klub Inggris, Ipswich Town.

Pada ujicoba sebelumya anak asuh STY mengalahkan klub Kroasia NK Dugopolje U-19 dengan skor 3-0. Semua gol terjadi di babak pertama dibuat oleh Braif, Brylian Aldama (penalti), dan Witan. Timnas U-19 memutuskan tetap menjalani latihan di Kroasia pada Oktober ini setelah melakoni tujuh pertandingan pada September lalu. David Maulana dkk meraih dua kali menang, dua kali imbang, dan tiga kali kalah.



Jumat, 11 September 2020

Indonesia U-19 Tahan Imbang Arab Saudi U-19

Timnas Indonesia U-19 mampu menahan imbang Arab Saudi U-19 dengan skor 3-3 dalam laga ujicoba yang dimainkan Kamis (10/9/20) di Kroasia. Tim Merah Putih lebih dulu tertinggal 0-3, tapi David Maulana dkk mampu bangkit menyamakan kedudukan lewat gol yang dibuat Irfan Jauhari, Saddam Gaffar, dan Braif Fatari. Sebelumnya anak asuh Shin Tae-yong kalah 0-3 dari Bulgaria dan kalah 1-7 dari Kroasia yang bertindak sebagai tuan rumah turnamen mini yang diikuti empat buah tim. Bagas Kaffa menjadi pencetak gol teramung Indonesia ke gawang Kroasia.



Senin, 16 Juli 2018

Prancis Juara Piala Dunia 2018!


Perhelatan paling akbar sepak bola tahun ini berakhir sudah. Les Bleus mengukir sejarah menjadi juara Piala Dunia 2018 di Rusia. Dalam final yang dimainkan pada Minggu (15/7) di Stadion Luzhniki Moskow, Prancis berhasil mengalahkan Kroasia 4-2 dalam sebuah pertandingan yang berlangsung impresif. Gol bunuh diri Mario Mandzukic-yang berusaha menghalau tendangan bebas Antoine Griezmann-mengawali keunggulan tim besutan Didier Deschamps di menit ke-18. Ivan Perisic menyamakan kedudukan menjadi 1-1 di menit ke-28. Sepuluh menit kemudian tendangan penalti Griezmann menaklukkan Danijel Subasic. Wasit memutuskan memberi hadiah penalti kepada Les Bleus setelah menggunakan VAR dan memastikan Perisic handball di kotak penalti Vatreni. Babak pertama berakhir 2-1 dengan gol yang tercipta setiap 10 menit sejak menit ke-18. Prancis berada di atas angin setelah tendangan keras Paul Pogba (59') dan Kylian Mbappe (65') dua kali menjebol gawang Subasic. Tim Ayam Jantan unggul 4-1. Gol Mandzukic yang memanfaatkan kesalahan Hugo Lloris di menit ke-69 hanya mampu menipiskan kekalahan menjadi 4-2. 

Prancis meraih Piala Dunia keduanya setelah menjuarainya untuk pertama kali pada 20 tahun silam. Didier Deschamps menjadi orang ketiga yang menjadi juara Piala Dunia sebagai pemain sekaligus pelatih. Dia mengikuti jejak Mario Zagallo (Brasil) dan Franz Beckenbauer (Jerman). Meskipun kalah di final, Kroasia yang dilatih oleh Zlatko Dalic telah meraih prestasi terbaiknya di Piala Dunia 2018. Luka Modric dkk selalu bermain menyerang, penuh semangat, dan pantang menyerah sepanjang turnamen.

Beberapa penghargaan khusus diberikan kepada sejumlah nama. Luka Modric yang sukses membawa Kroasia hingga final menjadi pemain terbaik. Kylian Mbappe yang menjadi pemain termuda kedua (19 tahun 207 hari) yang bisa mencetak gol di final Piala Dunia-setelah Pele (17 tahun 249 hari) di PD 1958-dan total membuat empat gol terpilih sebagai pemain muda terbaik. Harry Kane (Inggris) menjadi pencetak gol tersubur dengan enam gol. Thibaut Courtois (Belgia) menjadi kiper terbaik. FIFA Fair Play diberikan kepada Spanyol. Sementara itu, Belgia menempati peringkat ketiga di Rusia setelah menang 2-0 atas Inggris pada Sabtu (14/7). Thomas Meunier dan Eden Hazard menjadi pencetak gol Belgia dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Saint Petersburg.

Kamis, 12 Juli 2018

Kroasia Tantang Prancis di Final

Kejutan masih belum berhenti di Rusia. Setelah Prancis memastikan satu tiket di laga puncak Piala Dunia 2018, mayoritas publik berharap besar Inggris mampu menyusulnya. Prancis versus Inggris menjadi final impian yang tersisa setelah Jerman, Portugal, Argentina, Spanyol, dan Brasil kandas di fase sebelumnya. Baik Prancis maupun Inggris merupakan dua negara yang baru sekali menjadi juara dunia dan tahun ini menjadi kesempatan terbaik meraih trofi kedua. Kedua tim juga dihuni oleh para pemain bintang yang bermain di klub-klub top Eropa. Namun, apa yang terjadi justru Kroasia yang akan menantang Prancis di Luzhniki pada Minggu (15/7) mendatang. Kendati tertinggal 0-1 lebih dulu oleh gol tendangan bebas Kieran Trippier di menit ke-5, Kroasia bisa menyamakan kedudukan lewat gol Ivan Perisic di menit ke-68. Kedua tim bermain sama kuat 1-1 hingga menit ke-90, sehingga dilanjutkan perpanjangan waktu 2x15 menit. Gol Mario Mandzukic di menit ke-109 akhirnya membawa Kroasia mengukir sejarah baru, untuk pertama kalinya bermain di final Piala Dunia. 

Sebelum turnamen berlangsung di Rusia, ada sejumlah nama yang digadang-gadang layak menjadi juara dunia baru, selain tentu saja langganan tim unggulan, yaitu mereka yang pernah meraih trofi di masa lalu. Para jagoan tradisional sudah tumbang di fase grup, perdelapan final, hingga perempat final. Ternyata justru Kroasia yang tinggal selangkah lagi menjadi juara dunia baru, bukannya Belgia, Portugal, Kolombia, atau Meksiko. Tim besutan Zlatko Dalic telah mencatat prestasi yang lebih apik ketimbang Zvonimir Boban dkk di PD 1998 Prancis, entah mereka menang atau kalah di pertandingan pamungkas nanti. 

Kendati gagal lolos ke final, pujian layak diberikan kepada Inggris. Dilatih oleh Gareth Southgate yang minim pengalaman dan bermaterikan mayoritas pemain muda, The Three Lions setidaknya mampu menyamai rekor para seniornya di PD 1990. Southgate sebagai pelatih lokal ternyata bisa berprestasi lebih baik di turnamen internasional ketimbang para pelatih asing top asing yang pernah menangani Inggris, seperti Sven Goran Erikkson (Swedia) dan Fabio Capello (Italia). Satu komentar menarik dari Capello, "Inggris akhirnya punya kiper bagus," untuk memuji penampilan Jordan Pickford, kiper muda minim pengalaman asal Everton yang ternyata tampil cukup bagus di Rusia. Harry Kane, striker sekaligus kapten Inggris, hingga usai semifinal masih memimpin daftar pencetak gol terbanyak di Rusia dengan koleksi enam gol. 

Inggris masih akan berjumpa dengan Belgia -merupakan duel ulangan di Grup G- untuk merebut hadiah hiburan berupa tempat ketiga di Pesta Bola Rusia 2018. Pertandingan antara kedua tim tersebut jelas masih layak untuk disimak. Kane berkesempatan memastikan gelar top scorer turnamen di Rusia, tapi tetap harus mewaspadai Romelu Lukaku yang telah mengoleksi empat gol. 

Minggu, 08 Juli 2018

Juara Piala Dunia 2018 Pasti dari Eropa

Empat tim telah memastikan diri melaju ke semifinal Piala Dunia 2018 dan semuanya dari Eropa. Dengan demikian sudah jelas bahwa siapa pun yang akhirnya menang di laga final adalah tim asal Benua Biru. Dalam pertandingan perempat final yang dimainkan Jumat (6/7), Prancis menang 2-0 atas Uruguay dan Belgia menundukkan Brasil 2-1. Sementara itu, dalam perempat final lainnya yang melibatkan semua negara Eropa dan berlangsung Sabtu (7/7), Inggris mengalahkan Swedia 2-0 dan Kroasia menaklukkan tuan rumah Rusia lewat adu penalti 4-3 (setelah bermain 120 menit dengan skor 2-2). 

Uruguay dan Brasil menjadi sesama tim non-Eropa yang tersisa di perempat final Piala Dunia 2018. Kedua jagoan dari Amerika Latin yang pernah juara Piala Dunia itu akhirnya bertekuk lutut di tangan Prancis dan Belgia. Gol anak asuh Didier Deschamps dicetak oleh Raphael Varane lewat sundulan (40') dan Antoine Griezmann melalui tendangan keras dari luar kotak penalti (61'). Fernando Muslera sebenarnya bisa menyergap tendangan tersebut, tapi bola terlepas tanpa sempat ditangkapnya dan masuk ke gawang Uruguay. Griezmann tidak melakukan selebrasi sehabis membuat gol karena mengenang jasa pelatihnya di Real Sociedad yang merupakan orang Uruguay dan mengingat persahabatannya dengan Diego Godin dan Jose Gimenez, rekannya di Atletico Madrid.

Belgia sukses memulangkan Brasil melalui gol bunuh diri Fernandinho (13') dan gol Kevin de Bruyne (31'). Renato Augusto yang dimainkan di babak kedua hanya mampu menipiskan kekalahan Tim Samba menjadi 1-2 pada menit ke-76. Neymar dkk gagal menjawab ekspetasi publik Brasil untuk bisa meraih trofi juara dunia keenam di Rusia. Prancis dan Belgia akan bertemu di semifinal yang berlangsung Selasa (10/7) waktu setempat.

Dengan kembali mengenakan kostum merah-merah, Inggris menghentikan langkah Swedia di 8 besar Piala Dunia 2018. Sepasang gol The Three Lions dihasilkan lewat sundulan oleh Harry Maguire (30') dan Dele Alli (58'). Anak asuh Gareth Southgate mengukir sejarah baru, yaitu untuk ketiga kalinya tampil di semifinal Piala Dunia. Sebelumnya Inggris bermain di semifinal PD Inggris 1966 (menjadi juara untuk pertama kalinya) dan PD Italia 1990 (terhenti di semifinal). Sebuah fakta menarik, Inggris selalu mengenakan kostum tandangnya ketika menaklukkan dua tim berkaus kuning di fase 16 besar (Kolombia) maupun 8 besar (Swedia). Sponsor kostum kedua tim yang disingkirkan Inggris kebetulan sama pula. Sementara itu, Kroasia sukses menghentikan langkah tuan rumah Rusia dalam perempat final yang dimainkan terakhir. Kedua tim bermain 1-1 selama 90 menit. Dalam perpanjangan waktu 2x15 menit, Kroasia maupun Rusia membuat masing-masing satu gol sehingga skor menjadi 2-2. Dalam adu tendangan penalti, Kroasia unggul 4-3 dan mengulangi histori di PD Prancis 1998. Kroasia bakal menantang Inggris untuk merebut tiket ke final pada Rabu (1/7) waktu setempat.

Dua tim yang pernah sekali menjuarai Piala Dunia, Prancis dan Inggris, bakal bertarung dengan sepasang tim yang berambisi menjadi kampiun untuk kali pertama, Belgia dan Kroasia. Siapakah di antara mereka yang akhirnya meraih kejayaan di Rusia?


Senin, 02 Juli 2018

Messi, Ronaldo, dan Spanyol Sudah Pulang

Kejutan demi kejutan masih terus terjadi di Rusia. Babak perdelapan final Piala Dunia 2018 telah memainkan empat pertandingan dalam dua hari, Sabtu (30/6) dan Minggu (1/7). Bintang-bintang kondang pun tak bisa terus bersinar dan kembali berguguran. Argentina takluk 3-4 dari Prancis, sedangkan Portugal kandas 1-2 di tangan Uruguay. Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo sudah harus pulang dari Rusia setelah timnya kalah pada hari yang sama. Antoine Griezmann sempat membuat Le Bleus unggul 1-0 di menit ke-13, tapi Albiceleste kemudian membalas dan berganti memimpin 2-1 lewat gol Angel Di Maria (41') dan Gabriel Mercado (48'). Benjamin Pavard menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada menit ke-57. Dua gol Kylian Mbappe hanya dalam empat menit (64' dan 68') membuat anak asuh Didier Deschamps unggul 4-2. Gol Sergio Aguero di menit ke-90+3 hanya mampu menipiskan kekalahan Argentina. Sementara itu, sepasang gol Uruguay dibuat oleh Edinson Cavani. Gol Pepe hanya sempat menyamakan kedudukan di menit ke-55. Ada benang merah yang menghubungkan bintang kemenangan Prancis dan Uruguay. Mbappe dan Cavani sama-sama bermain di PSG, klub raksasa Prancis. Dengan mencetak dua gol di 16 besar, keduanya kini mengoleksi tiga gol di Piala Dunia 2018. Mereka berdua akan saling berhadapan ketika Prancis bertemu Uruguay di perempat final. 

Sementara itu, Spanyol yang merupakan kandidat juara lainnya pun dihentikan langkahnya oleh tuan rumah Rusia lewat adu penalti. La Roja yang dihuni oleh pemain-pemain top seperti David De Gea, Sergio Ramos, Andres Iniesta, Isco, dan Diego Costa dipastikan gagal meraih trofi keduanya di Piala Dunia. Anak asuh Fernando Hierro lebih dulu unggul 1-0 lewat gol bunuh diri bek Rusia yang mengawal Sergio Ramos dalam sebuah kemelut di muka gawang Igor Akinfeev, yang didahului sepak pojok Marco Asensio. Tim tuan rumah menyamakan kedudukan melalui tendangan penalti Artem Dzyuba setelah tangan Gerard Pique terkena bola di depan gawang Sapnyol. Kedua tim bermain seri 1-1 hingga 90 menit yang dilanjutkan dengan perpanjangan waktu 2x15 menit. Skor tidak berubah sehingga laga mesti diakhiri dengan adu tendangan penalti. Akinfeev, penjaga gawang sekaligus kapten Rusia menjadi pahlawan dengan menggagalkan tendangan Koke dan Iago Aspas. Sang kiper terpilih sebagai pemain terbaik Rusia vs Spanyol. Rusia pun unggul 4-3 dalam adu penalti dan berhak melaju ke 8 besar.

Satu laga lain yang harus diselesaikan lewat adu penalti adalah Kroasia vs Denmark. Pada lima menit awal pertandingan kedua  tim sudah bermain 1-1, tapi kemudian mereka tidak bisa lagi menjebol gawang lawan hingga usai waktu normal. Luka Modric berpeluang membuat Kroasia unggul di babak kedua perpanjangan waktu, tapi tendangan penaltinya berhasil digagalkan Kasper Schmeichel. Selanjutnya, adu penalti menjadi adu ketangguhan kiper kedua tim, Danijel Subasic dan Schmeichel. Subasic sukses menggagalkan tiga penalti pemain Denmark, sedangkan Schmeichel dua kali melakukannya. Ivan Rakitic menjadi penendang terakhir Kroasia yang menjadikan timnya unggul 3-2 dalam adu penalti. Kroasia akan menantang Rusia di babak perempat final. Sementara itu, Kasper Schmeichel terpilih sebagai pemain terbaik biarpun timnya terhenti langkahnya di Rusia.

Sabtu, 25 Juni 2016

Birunya Kroasia dan Kostum Kedua yang Lebih Keren di Euro 2016

Kroasia dengan kostum birunya belum pernah kalah dalam tiga pertandingannya di Prancis.
Kroasia, yang selama ini identik dengan kostum kotak-kotak merah putih, tampil berbeda dengan kostum keduanya yang berwarna biru selama bermain di Piala Eropa 2016. Tiga kali menjalani laga penyisihan Grup D, tim besutan Ante Cacic belum pernah kalah dan lolos ke 16 besar sebagai juara grup. Kroasia menang 1-0 atas Turki, bermain imbang 2-2 dengan Republik Ceska, dan mengalahkan Spanyol 2-1. Hasil pertandingan ketiga cukup mengejutkan, mengingat status Tim Matador sebagai juara bertahan Piala Eropa dan menjadi salah satu unggulan di Euro 2016. Namun melihat materi pemainnya saat ini, seperti Luka Modric (Real Madrid), Ivan Rakitic (Barcelona), Ivan Perisic (Inter Milan), dan Mario Mandzukic (Juventus), Kroasia sebenarnya layak pula dijagokan untuk berprestasi. 

Barangkali pilihan Kroasia mengenakan kostum warna biru di Piala Eropa 2016 terinspirasi Belanda yang sukses menempati peringkat ketiga di Piala Dunia 2014 Brasil dan sepanjang turnamen sempat tiga kali mengenakan kostum keduanya yang juga berwarna biru. Dua tahun silam Belanda mampu menundukkan Spanyol 5-1 di fase grup dan tahun ini Kroasia telah melakukannya pula, meski dengan skor yang berbeda. Bisa jadi Kroasia juga ingin bernasib baik seperti Leicester City yang secara mengejutkan menjadi juara Liga Primer Inggris 2015/16. Kita semua tahu, kostum utama Leicester berwarna biru.

Prestasi tertinggi Kroasia dalam turnamen antarnegara adalah juara ketiga Piala Dunia 1998. Sama halnya dengan Piala Eropa 2016 yang tengah berlangsung, turnamen tersebut diselenggarakan di Prancis. Luka Modric dkk tentu berharap dapat mengikuti jejak para seniornya 18 tahun silam. Di babak perdelapan final, Kroasia bertemu dengan Portugal yang lolos dari Grup F dengan hanya meraih tiga kali seri. Di atas kertas, Kroasia lebih diunggulkan ketimbang Portugal. Tapi patut diwaspadai bahwa Cristiano Ronaldo sudah mencetak dua gol bagi timnya. Bukan mustahil bahwa performa tim besutan Fernando Santos justru bakal meningkat selepas fase grup. Yang pantas ditunggu, apakah Kroasia akan tetap mengenakan kostum biru keberuntungannya di Prancis, atau apakah akhirnya akan kembali memakai kostum kotak-kotak merah putihnya yang begitu spesifik, kala menjalani babak 16 besar? Tentu layak diperhatikan pula, bakal sejauh mana kiprah Kroasia menjalani musim panasnya tahun ini di Prancis.

Kostum Kedua yang Lebih Keren
Sebanyak 24 tim peserta Euro 2016 memiliki kostum yang beraneka ragam. Tetapi kostum utama mayoritas tim justru cenderung monoton. Prancis, Inggris, dan Portugal yang disponsori Nike memiliki motif yang tidak berbeda. Hanya warna kostum kedua Portugal (hijau tosca) yang terlihat menyegarkan. Adidas, yang menjadi sponsor 10 tim peserta, juga tidak mampu memamerkan semua kostum yang nyaman dipandang dan pantas dikoleksi. Tapi harus diakui bahwa Belgia, Ukraina, Albania, Republik Irlandia, Turki, Irlandia Utara, dan Kroasia memiliki kostum utama yang bagus. Hanya jika dibandingkan dengan kostum keduanya, justru banyak yang lebih keren ketimbang kostum utamanya. Berikut ini tim-tim yang sempat tampil di Prancis dengan kostum keduanya.

Swiss (Puma)

Slovakia (Puma)

Italia (Puma)

Wales (adidas)

Turki (Nike)

Kroasia (Nike)
Spanyol (adidas)
Belgia (adidas)

Republik Irlandia (Umbro)

Portugal (Nike)