Tampilkan postingan dengan label leicester city. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label leicester city. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2017

Leicester Pecat Ranieri

Begitu cepatnya jasa besar seseorang dilupakan. Demikianlah yang dilakukan oleh Leicester City ketika memecat Claudio Ranieri pada Kamis (23/2/17). Pelatih asal Italia yang sekitar sembilan bulan lalu membawa The Foxes untuk pertama kalinya dalam sejarah menjadi juara Liga Primer Inggris 2015/16 didepak sesudah anak asuhnya takluk 1-2 dari Sevilla dalam laga pertama 16 besar Liga Champion Eropa 2016/17 yang berlangsung Rabu (22/2). Meskipun kalah, anak asuh Ranieri dinilai bermain bagus menghadapi juara Liga Europa tiga musim beruntun tersebut. Peluang untuk lolos ke fase berikutnya masih terbuka dalam laga kedua di kandang. Memang Leicester tampil sangat buruk di Liga Inggris dan dalam ancaman degradasi. Namun, debut penampilan di Eropa terbilang luar biasa. The Foxes lolos ke 16 besar sebagai juara Grup G di atas FC Porto tanpa kekalahan. Hal itu tampaknya tak dianggap sebagai prestasi Ranieri, yang menerima sejumlah penghargaan sebagai pelatih terbaik 2016, termasuk dari FIFA. 

Sebenarnya pemecatan manajer pada musim sesudah membawa timnya juara bukan hal aneh di Inggris. Roberto Mancini, Carlo Ancelotti, dan Jose Mourinho pernah mengalaminya di masa silam. Namun, rada maklumlah karena mereka yang melakukannya adalah tim-tim kaya yang pemiliknya arogan, seperti Manchester City dan Chelsea, yang hampir setiap musimnya memiliki ambisi dan layak diunggulkan menjadi juara. Sedangkan Leicester City, yang sebelum juara musim lalu, hanya selalu menargetkan bisa bertahan di kasta teratas Liga Inggris saban musimnya, lha kok berlagak sekali menjelma klub raksasa yang ikut-ikutan tidak tahu membalas budi kepada seseorang yang pantas menjadi legenda The Foxes? Siapa pun nanti yang menggantikan Ranieri tentu diharapkan menyelamatkan klub dari jurang degradasi. Namun, bersiap sajalah pemilik dan pendukung Leicester menerima balasan atas perlakuan buruk terhadap seorang pelatih hebat berjasa besar.

Kamis, 05 Januari 2017

Sejumlah Kejutan di Tahun 2016

Beberapa hal yang tidak terduga mewarnai perjalanan dunia sepak bola sepanjang tahun 2016 yang baru saja berlalu. Leicester City menjadi juara Liga Premier Inggris 2015/16 barangkali merupakan kejutan terbesar tahun kemarin. Tim asuhan Claudio Ranieri bagaikan menjalani kisah dalam dongeng yang mampu mengejawantah di dunia nyata. Jamie Vardy dkk berhasil memupus dominasi tim-tim bertabur bintang yang kaya raya dan selama ini memiliki tradisi juara, seperti Manchester United, Manchester City, Arsenal, Chelsea, dan Liverpool. Chelsea -juara musim 2014/15- justru terpuruk hingga keluar dari persaingan. Jose Mourinho dipecat di tengah jalan dan The Blues akhirnya bertengger di nomor 10 di bawah asuhan Guus Hiddink. Leicester City, Arsenal, Tottenham Hotspur, dan Manchester City lolos ke Liga Champion 2016/17, sementara Manchester United bermain di Liga Europa 2016/17. Louis van Gaal memberikan kado terakhir bagi The Red Devils berupa gelar juara Piala FA 2015/16. Menyambut musim 2016/17, tim-tim besar ditangani oleh manajer anyar dengan reputasi juara. Mereka adalah Jose Mourinho (ManUtd), Antonio Conte (Chelsea), dan Pep Guardiola (ManCity).
Leicester City juara Liga Inggris adalah kejutan terbesar di dunia sepak bola 2016!
Kejutan juga terjadi ketika Portugal mengalahkan tuan rumah Prancis 1-0 dan merebut Piala Eropa pertamanya dalam final Euro 2016. Kendati diperkuat oleh Cristiano Ronaldo, tapi perjalanan Selecao tidak meyakinkan menuju partai puncak, sehingga Les Bleus lebih dijagokan berjaya di depan publik sendiri.
Cile menjadi kampiun Copa America Centenario 2016 merupakan hal tak terduga lainnya.
Lolosnya Indonesia ke final Piala AFF 2016 juga menjadi hal yang di luar prediksi. Tim asuhan Alfred Riedl bahkan sempat mengalahkan Thailand 2-1 di final pertama, tapi sayangnya di final kedua takluk 0-2 sehingga kejutannya tidak tuntas. Thailand tetap menjadi juara Asia Tenggara dan menambah rekornya sebagai juara Piala AFF.
Portugal juara Euro 2016 di Prancis.
AC Milan merebut Supercoppa Italiana 2016 menjadi kejutan di akhir tahun karena mampu mengalahkan Juventus, jawara Liga Italia yang sangat dominan lima tahun terakhir. Real Madrid menjuarai Piala Dunia Antarklub 2016 jelas bukan hal yang aneh. Namun, ketika lawan yang dihadapinya adalah Kashima Antlers, wakil tuan rumah Jepang, maka menjadi kejutan lainnya. Madrid bahkan sempat bermain imbang 2-2 dengan Kashima selama 90 menit laga, sebelum akhirnya menang 4-2 di perpanjangan waktu.

Tragedi Chapecoense
Jika di Eropa ada Leicester City, maka di Amerika Selatan ada Chapecoense, sebuah klub Brasil yang meroket hingga lolos ke final Copa Sudamericana 2016. Sayang sekali, tragedi justru terjadi ketika pesawat terbang yang membawa seluruh pemain dan ofisial Chapecoense mengalami kecelakaan pada akhir November di Kolombia. Mereka pun gugur sebelum bertanding. Atletico Nacional (Kolombia), calon lawan di final, meminta CONMEBOL memberikan trofi kepada Chapecoense dan akhirnya hal itu diwujudkan pada Desember. 

Selasa, 09 Agustus 2016

Gelar Pertama Mourinho untuk MU dan Kembalinya Pogba


Minggu (7/8/2016) menjadi hari yang menceriakan bagi The Red Devils. Sepekan sebelum berputarnya Liga Primer Inggris musim 2016/17, Manchester United berhasil meraih trofi Community Shield 2016 dengan mengalahkan Leicester City 2-1 di Stadion Wembley London. The Red Devils merupakan jawara Piala FA, sementara The Foxes berstatus sebagai kampiun EPL musim 2015/16, yang kemenangannya menjadi sebuah hal yang paling fenomenal di liga-liga Eropa akhir musim lalu. Jesse Lingard lebih dulu membawa timnya unggul 1-0 pada menit ke-32 lewat sebuah solo run yang mengesankan. Jamie Vardy menyamakan kedudukan menjadi 1-1 di menit ke-62, memanfaatkan kesalahan Marouane Fellaini. Zlatan Ibrahimovic menjadi pahlawan kemenangan United dengan golnya pada menit ke-83. Community Shield 2016 pun resmi dimiliki MU dan menjadi gelar ke-21 di ajang itu.

Jose Mourinho berhasil mempersembahkan gelar pertamanya bagi klub terbarunya. Uniknya, Mou justru mendedikasikan trofi Community Shield tahun ini bagi Louis van Gaal, manajer MU yang membawa Wayne Rooney dkk memenangi Piala FA 2016. Tampaknya mantan pelatih Chelsea itu masih mengenang kebaikan LvG yang pernah didampinginya sebagai asisten pelatih Barcelona di masa lalu. Apakah mungkin Mou justru sedang membangun citra baru di tempat kerjanya saat ini dan meninggalkan perannya selama ini sebagai pelatih arogan serta tokoh antagonis di dunia sepak bola?

Satu hal yang pasti, optimisme pencinta MU di seluruh dunia kian membuncah bahwa musim depan bakal menjadi era kebangkitan Setan Merah. Kabar kembalinya Paul Pogba merupakan hal menggembirakan pula, menyusul bergabungnya sejumlah pemain baru pada pramusim, seperti Ibrahimovic (PSG), Henrikh Mkhitaryan (Borussia Dortmund), dan Eric Bailly (Villareal). Pogba adalah pemain tim junior MU (2009-2011) yang dipandang tidak mampu bersinar dan hanya tiga kali bermain di tim senior (2012-2013). Gelandang asal Prancis itu justru berjaya bersama Juventus (2013-2016), dengan antara lain membawa klubnya di Italia empat kali juara Serie A dan dua kali meraih Piala Italia. Prestasi cemerlangnya bersama Bianconeri maupun penampilan impresifnya bersama timnas Prancis membuat United berniat memulangkan kembali Pogba. Hal itu akhirnya diwujudkan ketika klub yang berma rkas di Old Trafford tengah membangun era kejayaan baru di bawah Jose Mourinho. Semoga terjadi sinergi positif antara sang manajer anyar dan anak asuhnya, yang kelak menghadirkan sukacita selanjutnya.