Tampilkan postingan dengan label pelatih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelatih. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juni 2021

Zidane Mengundurkan Diri dan Ancelotti Kembali

Untuk kedua kalinya Zinedine Zidane mengundurkan diri dari kursi pelatih Real Madrid. Sebelumnya Zizou melakukannya seusai Los Blancos meraih trofi ketiga Liga Champions 2017/18. Posisinya waktu itu digantikan oleh Julen Lopetegui yang tak lama kemudian dipecat dan digantikan Santiago Solari. Zidane kembali menangani Madrid pada pertengahan musim 2018/19 setelah Solari juga dipecat. Pelatih asal Prancis itu mempersembahkan gelar Supercopa Espana 2019 dan juara Liga Spanyol 2019/20. Real Madrid memang gagal meraih gelar musim 2020/21, tapi setidaknya mampu memaksa perebutan juara La Liga ditentukan hingga laga pamungkas. Namun, Zidane merasa patah arang dengan perlakuan manajemen selama setahun terakhir. 

Tanpa berlama-lama, manajemen El Real telah mengumumkan Carlo Ancelotti sebagai pelatih anyar musim mendatang. Don Carletto adalah orang yang berhasil membawa Madrid kembali berjaya di Eropa dengan meraih gelar ke-10 pada musim 2013/14. Pelatih asal Italia itu dipecat setelah mengakhiri musim keduanya tanpa gelar, padahal ada Piala Super Eropa dan Piala Dunia Klub 2014 setelah menjadi juara UCL. Uniknya, Zidane menjadi asisten Don Carletto selama dua musim tersebut. Namun, Zizou justru mampu melampaui prestasi mentornya dengan mempersembahkan tiga gelar UCL secara beruntun pada 2016-2018 plus sejumlah trofi lainnya.

Ancelotti adalah manajer tim sarat pengalaman dan prestasi. Dia pernah tiga kali juara Liga Champions bersama AC Milan (2) dan Madrid, lalu pernah pula membawa anak asuhnya menjadi juara liga di empat negara berbeda : Milan (Italia), Chelsea (Inggris), PSG (Prancis), dan Bayern Muenchen (Jerman). Namun, setelah meninggalkan Muenchen, Don Carletto belum mampu meraih juara lagi bersama Napoli dan Everton. Entah apakah pelatih senior tersebut masih memiliki takdir menjadi juara lagi atau sudah habis jatah kesuksesannya selama ini.

Selasa, 06 Juni 2017

Prestasi Para Mantan Pelatih Madrid

Musim 2016/17 menjadi ajang kejayaan Real Madrid dengan Zinedine Zidane sebagai pelatihnya. Selain meraih trofi juara Liga Spanyol dan Liga Champion Eropa pada akhir musim ini, Los Blancos telah lebih dulu menjuarai Piala Super Eropa 2016 dan Piala Dunia Antarklub 2016. Diawali dengan gelar kampiun UEFA Champions League 2015/16 hingga mempertahankan gelar tersebut pada Juni 2017 yang menjadi sebuah rekor baru, Zidane telah mempersembahkan lima trofi bagi El Real sejak resmi melatih Cristiano Ronaldo  dkk pada Januari 2016. 
Jose Mourinho dengan trofi Liga Europa 2016/17.
Ternyata nasib baik juga tengah berpihak pada tiga mantan pelatih Real Madrid pada akhir musim ini. Jose Mourinho berhasil membawa Manchester United mendapatkan Piala Liga dan Liga Europa 2016/17. The Red Devils pun berhak tampil di Liga Champion musim 2017/18, meski hanya menempati peringkat ke-6 di Liga Primer Inggris. Selama menangani Los Merengues (2010-2013), Mourinho pernah memberikan gelar juara Copa del Rey 2010/11, La Liga 2011/12, dan Supercoppa Espana 2012. Dia dipecat pada akhir musim 2012/13 dan digantikan oleh Carlo Ancelotti.

Carlo Ancelotti sukses mengantarkan Bayern Muenchen menjuarai Bundesliga 2016/17. Pelatih asal Italia tersebut mempersembahkan trofi Liga Champion Eropa 2013/14, Copa del Rey 2013/14, Piala Super Eropa 2014, dan Piala Dunia Antarklub 2014 bagi El Real (2013-2015). Meski mengoleksi empat piala dalam dua musim, Ancelotti tetap dipecat. Satu lagi mantan pelatih Madrid, Rafael Benitez, mampu membawa Newcastle United promosi ke Premier League dengan menjuarai Divisi Championship atau kompetisi kasta kedua Liga Inggris 2016/17. Benitez yang menjadi pengganti Ancelotti tidak sempat mengukir prestasi bersama Madrid karena dipecat dan digantikan oleh Zidane pada pertengahan musim 2015/16.
Carlo Ancelotti merayakan gelar juara Bundesliga 2016/17.
Reuni Mourinho dan Madrid
Jose Mourinho akan memimpin timnya saat ini, Manchester United, bertemu kembali dengan Real Madrid dalam waktu dekat. United, sebagai juara Liga Europa, akan berjumpa dengan El Real, pemenang Liga Champion, dalam Piala Super Eropa 2017 mendatang. Uniknya, ada sebuah benang merah ketika kedua tim menang di laga pamungkas kedua kejuaraan sekian waktu lalu. The Red Devils maupun Los Blancos bertindak sebagai tim tamu sehingga tidak mengenakan kostum utamanya di final Liga Europa dan Liga Champion. United menggunakan kostum kedua yang berwarna biru ketika mengalahkan Ajax Amsterdam 2-1, sedangkan El Real memakai kostum ketiga yang berwarna ungu kala menundukkan Juventus 4-1. Ajax dan Juve yang mengenakan kostum utama kebanggaannya justru menelan pil pahit di pertandingan terakhir kejuaraan.

Senin, 05 September 2016

Debut Apik Sejumlah Pelatih Tim Besar

Awal September 2016 menjadi kesempatan bagi sejumlah negara besar sepak bola tampil bersama arsitek timnas terbarunya. Di tanah Eropa, tak kurang dari Spanyol, Italia, Belgia, dan Inggris mengganti pelatihnya seusai Euro 2016 Prancis. Sementara itu, Brasil dan Argentina yang merupakan dua nama utama dari Amerika Selatan pun berupaya membangkitkan kejayaannya bersama pemimpin tim nasional anyar. Julen Lopetegui (Spanyol), Sam Allardyce (Inggris), Tite (Brasil), dan Edgardo Bauza (Argentina) melewati debutnya dengan hasil yang apik. Pada sisi lain, Giampiero Ventura (Italia) dan Roberto Martinez (Belgia) mengawali pertandingan pertamanya dengan kekalahan.

Perjumpaan Belgia dan Spanyol dalam laga uji coba di Brussels (1/9) merupakan pertemuan dua manajer anyar sesama orang Spanyol. Lopetegui bernasib lebih baik ketimbang Martinez. Tim tuan rumah bertekuk lutut 0-2 dari tim tamu. David Silva memborong sepasang gol La Roja.  Menjadi kejutan tersendiri ketika tidak ada nama Iker Casillas dan Cesc Fabregas dalam daftar pemain yang dipanggil pelatih anyar Tim Matador. Lopetegui juga memanggil kembali Juan Mata dan Diego Costa yang tidak disertakan oleh Vicente del Bosque di Piala Eropa 2016 lalu. Yang juga menarik, terdapat lima pemain Real Madrid yang diundang ke timnas, yaitu : Sergio Ramos, Dani Carvajal, Lucas Vasquez, Alvaro Morata, dan Marco Asensio. Jumlah itu melebihi Barcelona yang hanya mengirim empat pemain. Uniknya, Lopetegui pernah menjadi kiper Madrid dan Barca di waktu lalu. Sebelum menangani tim senior La Roja, Julen Lopetegui pernah mengukir prestasi juara Piala Eropa level junior bersama tim U-19 (2012) dan tim U-21 (2013). David de Gea, Dani Carvajal, Koke, dan Morata merupakan sebagian pemain andalannya di tim U-21. Selanjutnya Spanyol akan menjamu Liechtenstein dalam Kualifikasi Piala Dunia 2018 yang berlangsung di Leon (5/9).
Dua gol David Silva menjadikan debut Julen Lopetegui bersama Spanyol menjadi manis.
Sam Allardyce mengawali tugas barunya dengan meraih kemenangan. Adam Lallana mencetak gol tunggal Inggris ke gawang tuan rumah Slovakia dalam pertandingan pertama Kualifikasi Piala Dunia 2018 Grup F Zona UEFA yang berlangsung di Trnavia (4/9). Sementara itu, Adenor Leonardo Bacchi alias Tite berhasil membawa Brasil menang atas Ekuador 3-0 di Kualifikasi Piala Dunia 2018 zona CONMEBOL pada Kamis lalu (1/9). Satu gol Neymar dan dua gol Gabriel Jesus membuat sempurna debut Tite menangani Selecao. Pada hari yang sama, batal pensiunnya Lionel Messi membawa keberuntungan bagi Edgardo Bauza. Argentina menang 1-0 atas Uruguay dengan satu-satunya gol dicetak Messi.

Giampiero Ventura mengalami kekalahan dalam debutnya ketika Italia takluk 1-3 dari Prancis dalam pertandingan persahabatan di Bari (1/9). Graziano Pelle membuat satu gol untuk tim tuan rumah, namun para pemain tim tamu mampu tiga kali membobol gawang lawan. Namun sebuah rekor baru tercatat ketika Ventura memberikan debut bagi Gianluigi Donnarumma, kiper AC Milan berusia 17 tahun 6 bulan, yang membuatnya menjadi pemain termuda yang pernah bermain untuk Gli Azzuri sepanjang sejarah. Kebanggaan lain untuk Milan adalah keberadaan enam pemainnya di timnas besutan Ventura. Selain Donnarumma, terdapat nama Mattia De Sciglio, Luca Antonelli, Alessio Romagnoli, Riccardo Montolivo, dan Giacomo Bonaventura. De Sciglio dan Bonaventura menjadi pemain inti, sedangkan Donnarumma dan Montolivo menjadi pemain pengganti dalam laga Italia versus Prancis.
Donnaruma menjalani debutnya bersama tim senior Italia.

Rabu, 16 Maret 2016

Harapan untuk Zidane

Zinedine Zidane, pemain-pemain Madrid respek padanya.
Segala impian Rafael Benitez untuk membawa Real Madrid meraih kejayaan pupus sudah. Setelah merantau di Inggris dan Italia dan pulang kampung pada pertengahan 2016, pelatih kelahiran ibukota Spanyol itu ternyata hanya diberi kesempatan tujuh bulan menangani klub yang menjadi bagian dari kariernya sebagai insan sepak bola. Benitez tercatat pernah menjadi pemain dan pelatih tim junior Los Blancos. Hasil imbang 2-2 antara Madrid dan Valencia (3-1-2016) menjadi momentum pemecatan pelatih yang pernah dua kali menjuarai La Liga bersama Valencia tersebut. Kekalahan telak 0-4 Cristiano Ronaldo dkk dari Barcelona dalam “el clasico” (8-11-2015) konon menjadi salah satu alasan pemecatan. Padahal debut Mourinho dalam “el clasico” pada musim 2010/11 Madrid pun kalah 0-5. 

Sejak awal manajemen Los Merengues mengambil sejumlah langkah yang kurang tepat dalam menyambut musim 2015/16. Pertama adalah pemecatan Carlo Ancelotti, pelatih yang berjasa mempersembahkan trofi Liga Champion ke-10 alias “la decima” dan tiga gelar lainnya dalam dua musim. Padahal lelaki Italia yang berpembawaan tenang itu sangat dihormati para pemain, selalu membawa aura positif dalam tim, dan juga menjadi kesayangan pendukung Los Blancos. Kedua adalah dilepasnya Iker Casillas, sang legenda hidup klub, dengan tanpa respek yang selayaknya. Casillas, yang begitu mencintai Madrid dan tak pernah ingin pergi dari Santiago Bernabeu, “terpaksa” hijrah ke FC Porto (Portugal). Sejarah mencatat bahwa bukan sekali ini Madrid menyia-nyiakan sejumlah figur yang pernah berjasa pada klub. Pelatih Vicente del Bosque diputus kontraknya setelah membawa Madrid meraih banyak piala. Demikian pula para pemain jebolan tim junior yang sangat setia pada Los Merengues dan -sebagaimana Casillas- berstatus sebagai kapten Madrid : Fernando Hierro dan Raul Gonzales. Sehabis itu Madrid seperti mendapat karma ketika rencana menghadirkan David de Gea gagal di saat-saat terakhir transfer musim panas silam. Lalu Madrid dicoret dari Copa del Rey 2015/16 karena menurunkan Denis Cheryshev, pemain yang sebenarnya sedang menjalani masa hukuman.

Tidak adil sebenarnya menyatakan Benitez telah gagal karena musim 2015/16 baru separuh jalan. Madrid mampu lolos tanpa kalah ke 16 Besar Liga Champion sebagai juara Grup A dan hingga pekan ke-18 masih berada di urutan ke-3 klasemen Liga Primera. Ancelotti pun menyesalkan pemecatan Benitez dan mengecam Florentino Perez, sang presiden klub, yang masih saja selalu bersikap tidak elegan pada para pelatih. Zinedine Zidane yang menggantikan Benitez merupakan pelatih kelima Los Merengues sejak tahun 2009. Namun harus diakui pula bahwa Benitez tidak mampu membangun harmoni di ruang ganti, sejumlah pemain bintang seperti Cristiano Ronaldo sering menunjukkan ketidaksukaannya pada sang manajer. Gaya permainan Los Galacticos pun dikritik tidak mengesankan, meski sebenarnya beberapa kali mampu menang telak, termasuk kemenangan 10-2 atas Rayo Vallecano (13-12-2015) yang menjadi sebuah rekor tersendiri. Benitez seakan tidak dinaungi nasib baik ketika berada di kampungnya sendiri.


Gol spektakuler Zizou yang membawa Madrid juara Liga Champion 2001/02.
Zinedine Zidane sebagai manajer anyar Madrid sejak 4 Januari 2016  membawa harapan baru karena prestasi gemilangnya sebagai pemain. Lelaki Prancis itu merupakan pemain dengan prestasi yang sangat lengkap, di antaranya menjadi juara Piala Dunia dan Piala Eropa bersama Prancis, meraih Liga Champion bersama Madrid, dan menjadi Pemain Terbaik Dunia. Zizou pun pernah menjadi asisten pelatih Los Blancos dan pelatih kepala Madrid Castilla. Hal itu membuatnya mendapat respek dari bintang-bintang Los Galacticos. Debut Zidane sebagai arsitek Madrid mendapat hasil cemerlang. Gareth Bale dkk menang 5-0 atas Deportivo La Coruna (10/1). Pada laga kedua pun tim besutan Zidane menang 5-1 atas Sporting Gijon (17/1). Tentu asa membuncah dari Madridista bahwa Madrid akan kembali berjaya di era Zizou. Namun apa pun hasilnya akhir musim nanti, semoga Perez masih memberi kesempatan pada sang pelatih baru untuk mencurahkan segala kemampuannya musim depan. Menjadi juara tetap perlu sebuah nasib baik, bagi tim sekelas Real Madrid sekalipun.   

# dimuat di BolaVaganza No.173 - Maret 2016.